Posted by: jpriatna on: Februari 4, 2009
Hujan Oh Hujan … Turunlah turun hujan tuun … kami semua menantikanmu, turunlah turun hujan turun basahilah tanah air (padahal dah basah) ku. Rasa-rasanya gak akan ada orang yang melantuknkan lagu itu kembali hari ini, dimana beberapa kota besar di negeri kita sedang diguyur hujan bahkan ada yang banjir – gede lagi. Konon pemberitaan BMG memperkirakan pertengahan Februari 2009 merupakan puncak curah hujan. Hati-hati dan waspadalah kita, sedia payung sebelum hujan, jangan bawa payung ketika hujan basah tuh badan. Katanya hujan itu membawa berkah? Kok bawa banjir sih! Yey .. jangan salah sangka dulu, coba fikirin bener-bener apa emang tidak ada kemanfaatan dari banjir? Mmmm ada siih mereka yang ngojek perahu buat nyebrangin orang-orang. Tapi itukan sebagian kecil aja, bagaimana dengan kerugian meterial akibat banjir … ? jauh kan..jauh sekali.Iya juga yaaah. Lagian salah siapa terjadi banjir weee!!! Jadi bener dah gak ada kemanfaatan dari hujan? Apakah hujan sekarang sudah beralih fungsi sebagai pembawa bencana bukan pembawa rahmat.? Atau Anda tidak merasa apa-apa dengan turun dan tidaknya hujan? Waaah … keterlaluan kalo gutu!!! Dengan turun hujan baik dikehendaki atau tidak,baik dingini atau dibenci tetep hujan membawa manfaat bagi seluruh umat manusia yang kena hujan itu. Yang terkena banjir sekalipun mestinya menyadari bahwa hujan dan banjir dikirim Sang Maha Kuasa ytentunya dengan satu tujuan, meningatkan kembali kepada “PERAN SERTA KITA MANUSIA DI MUKA BUMI INI” Apakah kita termasuk kategori pembuat maslahat atau sebaliknya kita adalah perusak. Saya igatkan dengan firman Alloh di bawah ini: Dengan nama Aloh yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penentraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki (mu). (Qs. Al Anfal: 11) Wallohu ‘alam.
Posted by: jpriatna on: Februari 4, 2009
Kadang lebih penting SK Mentri, SK Gubernur, SK Bupati, SK Camat, dan lain sebainya, dari pada SK Tuhan untuk kita.
Posted by: jpriatna on: Februari 4, 2009
Lagi-lagi masalah rokok. Sudah banyak komentar tentang rokok dari sisi kemadlorotan hingga manfaat yang ada padanya. Lantas …. ada lagi fatwa ” Rokok Haram”. Gimana tuh, bukankah sudah jelas yang halal dan yang haram (Alhalalu bayin wal haromu bayin wama baina huma subhatun).
Wallohu ‘alam.
Posted by: jpriatna on: Januari 19, 2009
Ingat teori titik api? Dimana kita akan semakin hangat bahkan merasakan panas ketika kita dekat dan sangat dekat dengan pusat api, sebaliknya kita akan merasa dingin, kedinginan bahkan membeku ketika kita menjauh dari pusat api. Bumi yang kita huni, bergeser sedikit saja menjauh dari matahari maka bumi itupun akan hancur karena beku, begitupun bergeser sedikit saja mendekat kepada matahari, maka bumi akan hancur karena terbakar. Subhanalloh demikianlah Alloh menciptakan segala sesuatu di dunia ini dengan ukuran. Bumi berputar pada porosnya, matahari serta planet-planet yang ada di jagat raya ini berjalan dengan ukuran dan ketentuannya.
Hangus terbakar atau membeku, dua hal – keadaan akibat sebuah pergeseran. Sebagaimana disinggung di atas bahwa sangat-sangat diperlukan konsisten pada satu ukuran dan ketetapan, supaya terpeliharanya keharmonisan hidup dan kehidupan ini. Konsisten pada satu ukuran artinya ketika kita menyadari kadar panas yang cukup untuk diri kita pada satu posisi, maka janganlah kita mencoba untuk bergeser menjauh dari posisi tersebut. Atau ketika kita merasakan kehangatan sumber api itu berkurang dan mulai terasa dingin, maka kita segera sadar bahwa kita telah bergeser dari paosisi dimana kita tegak berdiri, menjauh dari sumber kehangatan.
Ketentuan/ketetapan itu adalah kadar yang akan terima ketika kita telah menentukan jarak antaera kita dengan sumber kehangatan tersebut. Panas bergelora, hangat dan adem, dingin menggigil bahkan membeku. Barangkali itu ketentuannya menurut uraian di atas.
The frozen yang saya jadikan judul oret-oretan ini adalah satu penelaahan saya ketika saya kembali mereorientasi perjalanhidup saya yang hampir menjelang setengah abad. Sungguh pelajaran yang berarti bagi saya, dan saya ingin berbagi dengan semua. Bahwa ketika tiang pancang pemberangkatan telah tertancap dan di depan membantang garis menuju tujuan hidup dan kehidupan yang telah ditetapkan. Maka jarak diri dan sumber energi (titik api kehangatan, iman) adalah sangat sangat menentukan. Bagaimana saya bisa berjalan dalam kegelapan tanpa cahaya, bagaimana saya bisa berjalan pada teriknya matahari tanpa sebuah naungan dan bagaimana saya bisa berjalan di kedinginan yang sangat tapa sebuah penghangat?. Semua itu akan bisa dilalui ketika kita tetap menjaga jarak kita dengan yang mempunyai cahaya, mpunya naungan dan empunya kehangatan. Kalo bisa pertahankan jarak kita jangan sampai bergeser menjauh dan juga jangan menggeser melampui titik itu sebab kita akan terbakar. Wilayah kedirian kita hanya sampai batas kehangatan dan panas yang tidak membakar diri kita.
Tuntunan alquran mengenai hal ini: ” Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (Qs. Aj Jumar: 67)
Pengagungan yang sebenarnya (haqqo qodrihi), adalah kita berlaku sesuai dengan qodar Alloh SWT. Al-qodr berarti kemulyaan (lailatul qodr = malam kemulyaan). Pengagungan atau memulyakan Alloh SWT adalah wujud syukur kepadanya dalam implikasi memelihara tegak teguhnya ketetapan-ketetapan Nya. Denagan kata lain seseorang mencapai derajat mulya (akrom) ketika dia memulyakan/mengagungkan Robbnya dengan berusaha meneegakkan aturan dalam hidupnya.
Jadi frozen (Kebekuan dalam diri akibat memudarnya keyakinan diri pada Qodlo dan qodr Alloh) tidak akan terjadi ketika kita tetap “on the track” memelihara qodar dari Alloh SWT.
Demikian sahabat ‘the frozen’ edisi hari ini, wallohu ‘alam
Posted by: jpriatna on: Januari 19, 2009
Ada pelajaran tentang hidup (Ibroh), dengan cara membaca diri, situasi dan kondisi lingkungan(iqro) sebagai pendidikan yang langsung maupun tidak diajarkan Sang Maha Mendidik – Murobbi dalam (Tarbiyah) Nya.
Posted by: jpriatna on: Januari 19, 2009

Seberapa pentingkah penentuan titik tolak pemberangkatan dan arah tujuan hidup dan kehidupan ini? Pernahkah kita berpikir tentangnya dan menjadikannya suatu keniscayaan? Ataukah kita masih menganggap hal itu sesuatu yang biasa-biasa saja bahkan kita menganggap dan bersikap tidak serius alias main-main.. Padahal telah jelas dalam tuntutan al-quran Alloh SWT menciptakan manusia tidak main-main melainkan dengan satu tujuan yang jelas. Barangkali menjadi jelas bahwa setiap kehidupan mempunyai awal dan akhir, ujung dan pangkal pemberangkatan dan tujuan. Hal inilah yang mesti kita sadari sebab hidup tanpa awal pemberangkatan yang jelas dan tujuan akhir yang jelas pula adalah angan-angan, <!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:1; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:”"; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault {mso-style-type:export-only; margin-bottom:10.0pt; line-height:115%;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}
maka penentuan titik pemberangkatan dan arah tujuan merupakan sesuatu yang fundamental dan substansial.
Posted by: jpriatna on: Januari 16, 2009
ada beberapa pola yang sangat mempengaruhi hidup kita, perhatikan
pola makan
pola bekerja
pola istirahat
jangan lupa pola berfikir, ini biasanya juga sangat menentukan ketika kita berfikir untuk bertindak supaya tidak ada kata penyesalan di kemudian hari jadi terplaning kitu Kang Ganara.
Posted by: jpriatna on: Januari 16, 2009
Jangan biarkan air kehidupan berhenti mengalir…… beku, tapi biarkanlah ia mengalir menelusuri bukit-bukit terjal, ngarai nan curam, bongkahan-bongkahan batu, dataran, sawah ladang, sampai akhir muara dan berkumpul dilaut samudra raya.
Pada daerah aliran (DAS) tertentu air berputar membentuk lubuk-lubuk, tempat riuh rendah berbagai makhluq air berkumpul membentuk satu komunitas.
Terkadang dibukit nantinggi air mengalir lembam tertiup angin, dan setelahnya terbentuk sebuah pemandangan menakjubkan air terjun meluncur agung berhias pelangi.
Kebekuan mungkin terjadi ketika air dihempas udara dingin sebelum sampai di dasar jatuhannya.
Di goa-goa muncul jelmaannya stalaktit, stalagnit bak ice cream alami beraromi beku dan lezat tumbuh alami
Kebekuan itu perlahan mencair, dan air kembali melanjutkan perjalanan abadi, melintasi, menembus dan berkelok-kelok di permukaan bumi.
Subhanalloh begitu indahnya, begitu syahdunya .. jadi rindu.
Posted by: jpriatna on: Nopember 24, 2008
Happy Birth Day To You
Selamat ulang tahun bagi semua yang kebetulan lahir pada hari ini. Semoga apa yang Anda cita-citakan dapat digapai dengan izin Nya.
Hari Ualang Tahun, seberapa pentingkah itu?
Ah…. biasa-bisa saja tuh.
Eh … jelas penting dong,
wah …. sabodo amat lah mo met ulang taun ato gak juga.
Heeee…. itu mungkin dari beberapa komen atau pernyataan terhadap soalan HUT.
Menyoal HUT, saya kira bisa menjadi biasa, penting bahkan penting banget adanya. Hal ini akan sangat-sangat bergantung dari kebutuhan, siapa yang ingin melaksanakannya. Tul gak?
Kepada temen-temen yang barangkali sempet baca tulisan ini tolong komen dong … tentang penitingnya ulang tahun. Okeh!!!
Posted by: jpriatna on: Juni 3, 2008
Menyambung perihal identitas; status diri dan kedirian manusia
Status kemakhluqan manusia (insan) yang diistimewakan Alloh SWT adalah sesuatu yang sangat unik dan menarik tapi sedikit terabaikan dari perhatian kita. Padahal sangat beralasan Alloh menciptakan manusia dengan segenap keunikannya. Manusia diciptakan dengan suatu tujuan memakmurkan bumi sebagai wujud peribadahan kepada Nya. Sebagaimana sebuah inti pada sesuatu, keberadaannya adalah wajib sebab tanpanya akan menjadi bias sesuatu itu. Ketika manusia tidak Alloh ciptakan kira-kira untuk apa dunia diciptakan? Manusia adalah inti dari penciptaan alam raya ini, manusia adalah sentral yang dengannya makhluk lain tercipta.
Bahkan Alloh SWT hanya mempercayakan ‘amanat’ pengurusan bumi ini kepada manusia, yang sebelumnya sempat ditawarkan kepada gunung, bumi dan langit semua enggan menerima amanat Nya. Maka dipikulah amanat itu oleh manusia, jadi manusia adalah punya lakon dalam drama kehidupan ini.Dengan latar belakang itulah manusia seantero jagat ini WAJIB mengetahui, menyakini dan memahami arti status kemakhluqan manusia. Sebab mengetahui, meyakini serta memahaminya adalah modal dasar untuk meningkatkan eksistensi diri kita lebih baik dan lebih bernilai dihadapan Alloh SWT.
Inherintas manusia dengan amanah sudah tidak bisa dibantah dengan alasan apapun. Sebagaimana disinggung diatas, bahwa manusia diciptakan Alloh SWT dengan kesangupan memikul amanah. Konsekwensi logisnya bahwa peningkatan status manusia sangatlah bergantung kepada penunaian amanah tersebut. Atawa boleh dikatakan, sejauh mana ia bisa melaksanakan amanahnya sejauh itulah status dan kapasitasnya bisa terukur. Meningkat dari status sebelumnya atau malah sebaliknya terjungkal dibawah standar.
Kalau sebelumnya telah penulis kemukakan bahwa status manusia pada awalnya adalah sama dengan ciptaan Alloh yang lain yaitu sebagai makhluq. Yang dalam statusnya tidak mempunyai pilihan dan disadari atau tidak ia bergantung pada yang Mpunya. Dari bentuk ukuran dan kumulyaannya sudah tidak bisa ditawar lagi karena begitu kadar ciptaannya. Nah, senada dengan hal itu manusia yang dipikulkan amanah kepadanya mempunyai kemestian-kemstian yang lebih dari pada seorang yang berstatus makhluq. Kemestian-kemestian itu tiada lain adalah totalitas penerimaan atas kadar penciptaan dirinya. Kemudian menggunakan kelebihan-kelebihan yang dikaruniakan Alloh kepadanya sebagaimana mestinya, sesuai kehendak pencipta. Serta berupaya merapat kepada yang telah mengkadarkan ia seperti itu adanya, dan berusaha melebur antara ia dengan sang penciptanya. Maka sudah barang tentu konsekwensi inipun akan menaikan statusnya sebagai makhluq kepada derajat hamba (budak, abdi) Alloh SWT.
Saya ingatkan kembali bahwa tidak serta merta dengan kesempurnaan penciptaan manusia lantas ia menjadi seorang yang baik tanpa melalui proses pengetahuan dan pemahaman atas status diri. Maka amalan dari pengetahuan, pemahaman serta keyakinan itu akan berlangsung scara kontinyu hingga berkhirnya usia. Sehingga datangnya maut / kematian yang haq dan tidak bisa diragukan kejadiannya.
Manusia dan amanah, hidup dan mati, ilmu dan amal semua menandakan bahwa dalam penciptaan manusia yang melekat padanya tugas dan tanggungjawab untuk menunaikan amanah adalah perjalanan yang harus ditempuh sebagai suatu proses pencapaian memanusiakan manusia dengan status makhluq menjadi abid .. abdi alloh SWT.
Cag.
Komentar Terakhir