ISTI’ADZAH

Agustus 10, 2009

A’udzubillahiminasy syaithoonirrojiim (Aku berlindung kepada Alloh dari godaan syetan yang terkutuk), demikian sebuah afirmasi ketika kita memulai membaca alquran. sesuai dengan tuntunan dan juga sebuah tuntutan ketika dibacakan alquran, maka berlindunglah dulu kepada Alloh SWT dari goadaan syetan yang terkutuk. FA IDZA QURI ALQURAN FAS TA’IDZ BILLAHI MINASY SYAITHOONIRROJIIM.

Kata A’udzu (Aku berlindung) …, mengandung makna yang sangat dalam. Kepada siapa berlindung, dari apa kita berlindung, dengan apa kita melindungkan diri kita dan mengapa kita harus berlindung. Baiklah, mari kita mulai dari kepada siapa kita harus berlindung.

Sesuai dengan afirmasi tadi bahwa tiada dzat yang wajib kita mohon perlindungan kepadanya selain Alloh SWT. Sebab Dialah tempat bergantung segala sesuatu, artinya kita manusia beserta seluruh makhluq di dunia ini hanya membutuhkan pertolongan dan berada dibawah kuasanya. Tak ada satupun makhluq atau pun apa namanya yang dapat berdiri di posisi “tempat bergantung” segala sesuatu. karena Dialah Khloliq dan kita adalah makhluq, yang mau tidak mau kita berada dalam kuasanya. Maka, sadarilah kita adalah makhluq dan sesuai dengan kafasitasnya makhluq hanya punya kehendak tetapi tidak bisa mewujudkan kehendak kita, Alloh yang Maha berkehendak artinya punya kehendak sekaligus dengan kuasa mewujudkan kehenak tersebut.

Berlindung kepada Alloh SWT pasti aman, hanya saja manusia belum yakin akan keamanan yang diberikan Alloh SWT. Padahal, tiada rasa aman sesungguhnya ketika kita menjauh dari Nya. Seperti dalam beberapa ayat alquran diinformasikan bahwa, apakah mereka merasa aman ketika adzab datag tiba-tiba ketika mereka tidur, berapa banyak bencana terjadi ketika manusia tengah lelap tertidur.?
Atau apakah manusia merasa aman ketika Alloh SWT datangkan air bah di kala pagi hari sedangkan manusia sedang asyik bermain. ? Anda ingin aman, berlindunglah dengan perlindungan Alloh Aza Wajala.

Inilah sebuah do’a yang diajarkan Rosululloh Saw, supaya terhindar dari kejahatan: A’UDZU BIKALIMATILLAHIT TAMMATI MIN SYARI MAA KHOLAQ (Aku berlindung dengan kalimat Alloh yang sempurna dari kejahatan yang Alloh ciptakan). Semoga.


Jpriatna’s Weblog › Perkakas — WordPress

Januari 19, 2009

Ada pelajaran tentang hidup (Ibroh), dengan cara membaca diri, situasi dan kondisi lingkungan(iqro) sebagai pendidikan yang langsung maupun tidak diajarkan Sang Maha Mendidik – Murobbi dalam (Tarbiyah) Nya.


Titik TOLAK

Januari 19, 2009

polos

Seberapa pentingkah penentuan titik tolak pemberangkatan dan arah tujuan hidup dan kehidupan ini? Pernahkah kita berpikir tentangnya dan menjadikannya suatu keniscayaan? Ataukah kita masih menganggap hal itu sesuatu yang biasa-biasa saja bahkan kita menganggap dan bersikap tidak serius alias main-main.. Padahal telah jelas dalam tuntutan al-quran Alloh SWT menciptakan manusia tidak main-main melainkan dengan satu tujuan yang jelas. Barangkali menjadi jelas bahwa setiap kehidupan mempunyai awal dan akhir, ujung dan pangkal pemberangkatan dan tujuan. Hal inilah yang mesti kita sadari sebab hidup tanpa awal pemberangkatan yang jelas dan tujuan akhir yang jelas pula adalah angan-angan, <!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:1; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:”"; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault {mso-style-type:export-only; margin-bottom:10.0pt; line-height:115%;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}
maka penentuan titik pemberangkatan dan arah tujuan merupakan sesuatu yang fundamental dan substansial.



Jangan biarkan membeku (frozen)

Januari 16, 2009

Jangan biarkan air kehidupan berhenti mengalir…… beku, tapi biarkanlah ia mengalir menelusuri bukit-bukit terjal, ngarai nan curam, bongkahan-bongkahan batu, dataran, sawah ladang, sampai akhir muara dan berkumpul dilaut samudra raya.

Pada daerah aliran (DAS) tertentu air berputar membentuk lubuk-lubuk, tempat riuh rendah berbagai makhluq air berkumpul membentuk satu komunitas.

Terkadang dibukit nantinggi air mengalir lembam tertiup angin, dan setelahnya terbentuk sebuah pemandangan menakjubkan air terjun meluncur agung berhias pelangi.

Kebekuan mungkin terjadi ketika air dihempas udara dingin sebelum sampai di dasar jatuhannya.

Di goa-goa muncul jelmaannya stalaktit, stalagnit bak ice cream alami beraromi beku dan lezat tumbuh alami

Kebekuan itu perlahan mencair, dan air kembali melanjutkan perjalanan abadi, melintasi, menembus dan berkelok-kelok di permukaan bumi.

Subhanalloh begitu indahnya, begitu syahdunya .. jadi rindu.


Manusia dan Amanah

Juni 3, 2008

 Menyambung perihal identitas; status diri dan kedirian manusia

Status kemakhluqan manusia (insan) yang diistimewakan Alloh SWT adalah sesuatu yang sangat unik dan menarik tapi sedikit terabaikan dari perhatian kita. Padahal sangat beralasan Alloh menciptakan manusia dengan segenap keunikannya. Manusia diciptakan dengan suatu tujuan memakmurkan bumi sebagai wujud peribadahan kepada Nya.  Sebagaimana sebuah inti pada sesuatu, keberadaannya adalah wajib sebab tanpanya akan menjadi bias sesuatu itu. Ketika manusia tidak Alloh ciptakan kira-kira untuk apa dunia diciptakan? Manusia adalah inti dari penciptaan alam raya ini, manusia adalah sentral yang dengannya makhluk lain tercipta.

Bahkan Alloh SWT hanya mempercayakan ‘amanat’ pengurusan bumi ini kepada manusia, yang sebelumnya sempat ditawarkan kepada gunung, bumi dan langit semua enggan menerima amanat Nya. Maka dipikulah amanat itu oleh manusia, jadi manusia adalah punya lakon dalam drama kehidupan ini.Dengan latar belakang itulah manusia seantero jagat ini WAJIB mengetahui, menyakini dan memahami arti status kemakhluqan manusia. Sebab mengetahui, meyakini serta memahaminya adalah modal dasar  untuk meningkatkan eksistensi diri kita lebih baik dan lebih bernilai dihadapan Alloh SWT.

Inherintas manusia dengan amanah sudah tidak bisa dibantah dengan alasan apapun. Sebagaimana disinggung diatas, bahwa manusia diciptakan Alloh SWT dengan kesangupan memikul amanah.  Konsekwensi logisnya bahwa peningkatan status manusia sangatlah bergantung kepada penunaian amanah tersebut. Atawa boleh dikatakan, sejauh mana ia bisa melaksanakan amanahnya sejauh itulah status dan kapasitasnya bisa terukur. Meningkat dari status sebelumnya atau malah sebaliknya terjungkal dibawah standar.

Kalau sebelumnya telah penulis kemukakan bahwa status manusia pada awalnya adalah sama dengan ciptaan Alloh yang lain yaitu sebagai makhluq. Yang dalam statusnya tidak mempunyai pilihan dan disadari atau tidak ia bergantung pada yang Mpunya. Dari bentuk ukuran dan kumulyaannya sudah tidak bisa ditawar lagi karena begitu kadar ciptaannya. Nah, senada dengan hal itu manusia yang dipikulkan amanah kepadanya mempunyai kemestian-kemstian yang lebih dari pada seorang yang berstatus makhluq. Kemestian-kemestian itu tiada lain adalah totalitas penerimaan atas kadar penciptaan dirinya. Kemudian menggunakan kelebihan-kelebihan yang dikaruniakan Alloh kepadanya sebagaimana mestinya,  sesuai kehendak pencipta. Serta berupaya merapat kepada yang telah mengkadarkan ia seperti itu adanya, dan berusaha melebur antara ia dengan sang penciptanya. Maka sudah barang tentu konsekwensi inipun akan menaikan statusnya sebagai makhluq kepada derajat hamba (budak, abdi) Alloh SWT.

Saya ingatkan kembali bahwa tidak serta merta dengan kesempurnaan penciptaan manusia lantas ia menjadi seorang yang baik tanpa melalui proses pengetahuan dan pemahaman atas status diri. Maka amalan dari pengetahuan, pemahaman serta keyakinan itu akan berlangsung scara kontinyu hingga berkhirnya usia. Sehingga datangnya maut / kematian yang haq dan tidak bisa diragukan kejadiannya.

Manusia dan amanah, hidup dan mati, ilmu dan amal semua menandakan bahwa dalam penciptaan manusia yang melekat padanya tugas dan tanggungjawab untuk menunaikan amanah adalah perjalanan yang harus ditempuh sebagai suatu proses pencapaian memanusiakan manusia dengan status makhluq menjadi abid .. abdi alloh SWT.

Cag.

 


Wilayah Kejiwaan Manusia

Mei 29, 2008

Identitas: Status Kedirian Manusia

Subhanalloh, cibuk pisan euy jadi baru nongol lagi neeh.Salam sejahtera bagi kita semua.

Emmm…. pada tulisan saya yang lalu menyinggung tentang identitas. Identitas yang juga merupakan ciri diri dan kedirian dari manusia. Bahwa manusia mempunyai status yang dengan setatus itulah bisa dipastikan kapasitas dirinya.  Seperti apa identitas / status diri manusia itu, ini sangat bergantung kepada hubungan / relationship manusia dengan sang Maha Pencipta. Hubungan ini juga yang akan menentukan kadar & kapasitas manusia. Ketika hubungannya dengan Kholiq mencapai derajat sangat dekat maka bisa dipastikan ia adalah seorang manusia yang istimewa. Manusia yang boleh jadi kekasih Alloh / habiballoh, habiburrahman …. Dan sebaliknya ketika hubungannya dengan kholiq menjauh dan menjadi sangat jauh, ia adalah seorang manusia yang kufur (abaa wastakbaro – sombong dan takabur).

Pada awalnya status manusia, binatang, tumbuhan dan alam sekitar adalah sama, makhluq (yang diciptakan). Sebab selain Allah adalah alam , ma wsiwalloh fahuwal ‘alam. Dan setiap alam adalah sesuatu yang baru (hadis – dicipta). Maka kita manusia (insan), hayawanat, nabatat adalah alam atau makhluq, produk Al Kholiq.

Pada posisi inilah derajat manusia akan sama dengan makhluq yang lain, hanya saja manusia adalah makhluk pinilih - pilihan Alloh SWT yang dalam penciptaannya disertai dengan suatu kemampuan dasar (potensi diri) yang sangat luar biasa. Dengan potensi inilah manusia akan mampu menempatkan posisi dirinya diatas makhluq lain. Berkenaanhal ini Alloh SWT menginformasikannya lewat Qs. At Tiin.

Potensi diri manusia sering pula disebut Al Fitrah (asal sesuatu) artinya masih berupa potensi-potensi yang dalam perkembangannya bisa saja membaik atau memburuk. Jadi tidak menjamin manusia diciptakan Alloh dalam sebaik-baik kejadian lantas otomatis menjadi orang baik dan dikasihi Alloh SWT.  Finalnya bisa dilihat dan ditentukan sejauhmana manusia itu sendiri mengembangkan fitrahnya kearah kebaikan atau sebaliknya.

Ketika manusia dengan potensi yang ada pada dirinya berusaha berkembang , maka potensi ini dengan kecerdasannya berkembang. Sebab dalam fitrah manusia ada yang disebut af’idah potensi kecerdasan dan kepahaman pada manusia. Af’idah sendiri sangat erat dengan potensi lainnya yang terdapat pada fitrah manusia. Potensi itu masing-masing saling merespon satu sama lainnya sehingga ketika salah satu potensi ’sakit” maka semua akan menjadi sakit dan tidak berfungsi. Potensi itu tiada lain adalah sam’a, abshor dan af’idah . Potensi pedengaran sebagai respon terhadap sesuatu yang harus didengarnya, potensi penglihatan sebagai respon terhadap sesuatu yang harus dilihatnya serta semua itu diolah oleh af’idah sebagai kecenerungan yang menentukan sesuatu itu harus diikuti atau tidak.

Masing-masing potensi bekerja sesuai titah dan perintah Illahi, yang kesemuanya bekerja pada wilayah jiwa dan kejiwaan manusia yang sering pula disebut sebagai pusat kesadaran sebab pada satu kondisi jiwa ini akan berfungsi dan dikuasai aqal dan pada lain kondisi akan sangat dipengaruhi dan didominasi hawa (syahwat – berupa keinginan-keinginan manusia yang bertentangan dengan keinginan illahi).

Pada proses kejadiannya sebagaimana disebutkan dalam Qs. At Tiin diatas, yang dimaksud manusia diciptakan dalam kondisi sebaik-baik kejadian (ahsanit taqwim) adalah pula manusia diberi kekhususan yaitu aql selain manusia dikaruniai syahwat seperti pada makhluq lain. Oleh sebab itulah manusia mempunyai pilihan dalam hidupnya, tidak seperti binatang tumbuhan dan seterusnya.

Nah … inilah  status kita manusia, yang berawal dari / berstatus makhluq untuk kemudian akan meningkat kepada posisi / status yang lebih tinggi dengan syarat kita manusia memfungsikan segenap potensi yang ada pada diri kita ke arah perbaikan. Atau dengan kata lain menjadikan aql sebagai penguasa wilayah jiwa dan kejiwaan kita. Supaya jiwa kita tidak dipenuhi oleh penguasa-penguasa yang cenderung rakus, tidak puas dan tamak sebagai implementasi dari kuatnya hawa yang menjadikan kelamnya wilayah jiwa dan kejiwaan kita.

berlanjut aja ah ….

cag

 


Indonesia dan tradisi gosip

Mei 17, 2008

Gosip, merupakan salahsatu tradisi tertua dalam sejarah manusia. Turun temurun dan diwariskan kesetiap setiap generasi. Entah bagaimana jadinya manusia tanpa gosip, sendiri dan sunyi …kalie? Ah .. kesendirian adalah penjara bagi manusia normal dan ingin berkembang pada suatu masyarakat, komunitas tertentu.

Gosip, bagi sebagian orang merupakan kebutuhan. Sebagai makhluk sosial tak bisa dipungkiri bahwa manusia selalu memenuhi hasratnya dengan berinteraksi sesamanya. Berkumpul , ngobrol serta bertukar pikiran adalah juga kecenderungan yang harus tersalurkan. Dari interaksi inilah timbul suatu kebiasaan ngerumpi alias ngegosip juga lebih jauhnya menjadi tradisi gosip yang sangat susah dilerai karena keasyikanya. Maka bagi ‘kaum’ yang suka ngegosip tiada hari tanpa gosip tiada waktu berlalu tanpa gosip (semakin digosok semakin siiiip, … hehe).

Dan anehnya penggosip selalu punya ide untuk episode-episode dalam kesehariannya (kreatif banget ya). Habis topik yang satu maka akan timbul topik Hidayat …. eh … sorry topik yang lain.

Seiring perkembangan zaman dan teknologi gosip pun menjadi tren berbagai lapisan masyarakat. Satu hal yang menjadi  acara yang ‘wajib’ bagi setiap stasion TV yang ada di tanah air kita ini. Kalau gosip jaman dahulu adalah di serambi atau do ‘golodog’ (sunda), maka sekarang sudah lebih meluas lagi. Bisa dikamar, ditengah rumah, di dapur bahkan di WC sekalipun gosip bisa dilaksanakan melalui acara televisi itu.

Seorang Host, presenter harus punya ‘modal / bakat’ gosip dalam membawakan acara yang ditayangkan. Karena tanpa itu kayaknya kurang afdol tuhh.

Gosip telah menjadi konsumsi seluruh insan di Indonesia. Tak terkecuali anak-anak di bawah umur atau manula sekalipun, mereka menjadi penikmat acara gosip. Jadi …. gosip memang telah menjadi budaya dan melembaga bahkan “sudah tradiiisi”, ya …. gosip telah menjadi tradisi masyarakat Indonesia pada umumnya. 

 Ada anekdot tentang Indosesia dan gosip ini. Bahwa orang Indonesia terkenal sebagai penggosip alias tukang gosip. Suatu ketika berlayarlah orang Indonesia bersama sama orang Francis dan Jepang menuju suatu tujuan nun jauh disana. Malang pun tak bisa di halang kapal yang mereka tumpangi terdampar disatu pulau karena badai yang menyeretnya ke pulau tak bertuan itu, entah pulau apa namanya.

Singkat cerita mereka telah berlalu belasan tahun dipulau itu. Bukan tak ada usaha untuk keluar pulau itu, namun nasib mereka rupanya kurang beruntung. Hingga pada suatu hari mereka bertemu dengan seorang Jin dan menjanjikan akan mengabulkan 3 permohonan untuk 3 orang tersebut.

pertama orang jepang yang ditanya. “Wahai Nipon apa yang kau inginkan?” Si Jepang menjawab, “aku rindu kerja wahai Jin, maka kembalikan aku ke Jepang untuk bekerja.” Sim slabim, si Jepang pun diatarkan ke negaranya.

Lantas Si orang Ferancis, “Kalau aku sudah sangat rindu restauran, aku ingin sekali menikmati hidangan lezat disana”, maka dia pun dikembalikan ke Francis.

Giliran orang kita neeh…. orang Indonesia. Si Jin bertanya, “Wahai orang Andonesa …, Apa yang kamu inginkan ..?” Si Andonesa neeh … celingukan sambil garuk kepala. ” Aku … aku ingin kembalikan mereka berdua kemari ..!! ???

Inilah orang kita saking dah ketagihan ngegosip sama Si Francis dan orang Nipon, permintaannya pun ingin mereka bersama-sama di pulau itu.

Mungkin dah keahliannya kalie … syapa tahu ada hikmahnya dalam hal itu, .. he..he.

NGEGOSIP DALAM PANDANGAN ISLAM

gosip = ghibah, sebab dalam ghosip ada ghibah dan dalam ghibah tentu ada ghosip. Terlepas dari hal mana yang digosipiin, artinya baik atau buruk. Sekali ghibah ya ghibah …. dan dosa menurut sebagian ulama. Apalagi gosip yang mengandung profokasi (namimmah) dst. Lengkaplah gosip jadi sarang kejelekan. Biang gosip akan senang dan tertawa terbahak-bahak ketika kita terjebak pad aperngkapnya yang berupa ghibah ini.

Kalaulah ghosip itu berujud dan dapat digenggam kemudian dilempar ke lautan , maka lautan itu akan menjadi hitam, demikia Rosululloh dalam suatu hadisnya. Gosip memang suatu hal yang sangat dibenci Rosul juga Alloh SWT. Jangankan merendahkan orang atau membicarakan aib orang, membicarakan hal kebaikan orang pun termasuk ghibah…. waaww dahsyatnya.

Naah…gimana neeh para sohib? sedangkan kita terutama kaum hawa neeh suka banget tuh ngegosip. Entah di kantor, dirumah atawa dimana saja gosip dah jadi tradisi. Setelah tahu bahwa gosip ini sesuatu hal tercela … kurangi dulu deeh, atawa kata yang tepat STOP GOSIP. Karena dengan gosip bukan lebih nambah ilmu, yang jelah lebih banyak kejelekan tersebar. Bukan satu orang yang kena imbas dosa melainkan banyak orang, ya sekitaran orang-orang yang ngegosip itu lah..

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang diturunkan Allah”. Mereka menjawab: “(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)? (Qs. Luqman: 21)

Atawa coba deh dibuka QS. Al Hujurot: 12

cag


Pengabdian 1/2 hati

Mei 15, 2008

Puji syukur kepada Mu yaa Alloh, pagi ini Engkau izinkan kami kembali beraktivitas menjalankan tugas-tugas horizontal sebgai hubungan sesama manusia setelah lima pos kami lalui dan senantiasa akan kami jalankan dengan seizin MU. Tadi pagi pos pertama telah kami lalui, walau selalu kurang tawadlu tapi tetap kami usahakan untuk bersimpuh dan merendah di hadapan Mu. Walau dengan 1/2 kehadiran hati kami karena terlalu banyak keduaniaan yang kami terus pikirkan sehingga hati dan pikir kami tak konsentrasi sekalipun kami sedang menghadap Mu. Namun 1/2 dari hati kami tetap kami usahakan untuk Mu, … ampun yaa Alloh sebab kami belum bisa total menghadap Mu dalam kehidupan ini bahkan ketika sedang menghadap Mu pada setiap pos pemberhentian yang telah Engkau dan Rosulmu tetapkan. Pos Pagi, pos siang, pos sore, pos menjelang malam serta pos malam-malam Mu kami lalui dan laksanakan semuanya dengan 1/2 hati. Mungkin pengabdian kami baru 1/2 hati.

Para penjaga pos-pos Mu akan murka kepada kami karena 1/2 pengabdian kami. Padahal titah dan perintahmu menghendaki totalitas dalam  pengabdian. Karena agama Mu (Islam) adalah totalitas ketundukpatuhan (taslim) seorang makhluq kepada Mu (Kholik) dengan segenap kemampuan yang dimiliki. Sehingga atas nama ketunduk patuhan itu (muslim) akan mampu menyampaikan dirinya kepada derajat kesalamatan (saliman, islaman) dari Yang Maha Memberikan Selamat. Karena, kami yakin bahwa:

Engkau adalah yang memberi selamat

dan dari Engkau keselamatan

dan kepada Engkau kami memohon keselamatan

maka hidupkanlah kami dalam kedamaian dan keselamatan

dan masukan kami kedalam surga keselamatan

Maha Suci Engkau,

Engkau Maha Gagah serta Maha Mulia


Antara Do’a dan Harapan

Mei 14, 2008

Selamat pagi, Salam sejahtera untuk kita semua.

Seusai shalat subuh berjama’ah di masjid pagi tadi kami ngumpul membicarakan program infaq kematian. Kang Didin yang ditunjuk sebagai ketua program ini menginformasikan hasil kerjanya, terutama menyangkut DKM dengan lembaga Ke Rw an. Hasilnya cukup bagus, program ini bisa digulirkan. Disela-sela obrolan setelah bahasan program kematian itu Kang Agus yang termenung sejak obrolan dimulai baru berkomentar. “Kadang apa yang kita harapkan tidak jadi kenyataan, bahkan do’a yang kita panjatkan serasa tidak mempunyai jawaban” ujarnya. Kami semua yang hadir disana menahan nafas dan tertegun. Memikirkan kalimat yang baru saja terujar. “Itulah dhon (prasangka) kebanyakan dari kita, walau kita gak mengucapkannya karena kita msih mempunyai rasa takut dengan konsekuensi ucapak kita”, tambahnya. Obrolan pun jadi semakin menghangat, namun waktu sudah menunjukan pukul 06.00 Wib waktunya berangkat kerja. Apalagi kebanyakan dari kami yang hadir semua jauh dari tempat kerjanya, maklum kami mukim di pinggiran kota Bandung.

Ungkapan kang Agus di atas mungkin juga mewakili dari kebanyakan kita. Kadang kita merasa lelah berdo’a, padahal Alloh tidak akan lelah dan bosan kabulkan permintaan kita. Harapan-harapan kita tak kunjung menjadi kenyataan, padahal justru kehidupan yang kita jalani adalah jawaban-jawaban dari Sang Maha Pengabul Do’a atas semua harapan kita. Permasalahannya adalah sejauh mana kita paham terhadap do’a dan harapan kita. Sudahkah kita reorientasi do’a dan harapan kita? Apakah ketika kita panjatkan do’a demi suatu harapan, kita sertakan kepentingan agama?  Atau sudahkah kita pintakan juga kepentingan orang-orang sekitar kita yang jauh lebih membutuhkan ‘penjelmaan’ dari sebuah harpannya? Sudahkah kita mohonkan ampunan untuk orang tua kita, sebelum mohon ampunan untuk kita? Satu-satu orang yang sangat berjasa kepada kita bayangkan dan kita mohonkan ampun untuk mereka, mohonkan keberkahan untuk mereka serta mohonkan kekuatan ketika mereka sangat-sangat lemah dan membutuhkan pertolongan, … sudahkah?

Kebanyakan dari kita egois dalam hal berdo’a, sangat jarang kita memohonkan sesuatu untuk saudara kita. Kita terlalu sibuk dengan daftar harapan-harapan dan doa’a kita sendiri dan jarang bahkan tidak sama sekali memikirkan harapan-harapan yang mungkin lebih pantas diberikan  untukmereka dari pada kita. Daftar permohonan kita berubah setiap hari, hari ini A, besok B dan besoknya lagi C dan terus … berubah.

Hakikatnya do’a adalah usaha bathin kita untuk mewujudkan semua harapan-harapan kita. Namun ketika harapan itu belum kita gapai, do’a yang kita panjatkan belum terwujud ketahuilah bahwa sesutau tengah terjadi. Sesuatu tengah kita gapai, sesuatu tengah wujud bersama kehidupan kita. Secara tidak kita sadari semua permohonan kita tengah diproses oleh Sang Maha Mengbulkan Do’a – Alloh SWT. Nah, permasalahan selanjutnya adalah kesiapan kita menghadapi sesuatu itu dalam hidup kita. Bisakah kita terima keadaan kita dengan apa adanya (qonaah). Sebab hidup terindah adalah “MENERIMA APA YANG ADA, SENANTIASA BERUSAHA UNTUK MEREALISASIKAN SEMUA HARAPAN KITA”.


Kabulkan Jika Kita Mampu.

Mei 12, 2008

Sebut saja Abdullah, seorang pekerja da’wah Islamiyah yang santun dan sangat memperhatikan orang-orang disekitarnya. suatu hari ia bekerja cukup jauh ke suatu daerah / peloksok, sehingga cukup kelelahan sepulangnya dari sana. Sambil selonjoran ia kipas-kipasi badannya dengan sal dari leherna. Tiba-tiba isteri tercinta menghampirinya sambil membawa segelas air putih – sejuk sekali. Sambungnya, ” Tuh Si Aa…”  sambil menunjuk kepala Aa  yang gondrong. Abdulah mengerti maksudnya, karena ia telah berjanji beberapa hari yang lalu untuk mengantar Aa ke tukang cukur. Sambil mengangguk Abdullah seraya mengajak Aa yang lagi asyik nonton Film Naruto. Ia sama sekali tidak menolak permohonan isterinya, walau dirasakan ia sangat lelah sepulang bekerja. Berangkatlah ia bersama Si Aa untuk becukur rambut.

Gak ada yang istimewa dari kisah di atas. Cuma sepenggalan kisah keluarga sehari-hari. Namun demikian ada sesuatu yang tersirat cukup bernilai dan biasanya hal ini kita anggap sepele dan mengabaikannya. Apakah gerangan?

Singkatnya, ketika Abdullah benar-benar merasa lelah sepulang bekerja seharian. Inginnya ia istirahat / atau tidur. Namun, hal itu tidak ia lakukan karena ia harus melayani anaknya. Lagian ia masih mampu sekedar naik sepeda motor untuknya. Nah, inilah mungkin yang kadang tidak kita lalkukan. kebiasaan kita untuk mengangkat kaki saja dari tempat duduk dan mengambil sesuatu dari meja makan enggan rasanya. Lebih baik menyuruh – minta tolong pembantu, anak atau isteri. Tidak apa-apa sih, namun alangkah lebih baiknya ketika hal itu kita kerjakansendiri. Kita mencoba memberi ruang untuk orang-orang terdekat kita. Kita coba berikan sedikit perhatian dankesempatan bagi mereka untuk diperlalkukan sejajar dengan kita.

Selagi kita mampu tak ada salahnya khan! Lakukan sesuatu dengan kafasitas kita. Jangan paksakan apa yang kita anggap kita mampu lakukan kepada orang lain. sebab kafasiltas makhluk manusia  berbeda beda. Belajar mengharagai diri kita dengan terlebih dahulu menghargai dan memiliakan (ikrom) orang lain.

cag