Wilayah Kejiwaan Manusia

Mei 29, 2008

Identitas: Status Kedirian Manusia

Subhanalloh, cibuk pisan euy jadi baru nongol lagi neeh.Salam sejahtera bagi kita semua.

Emmm…. pada tulisan saya yang lalu menyinggung tentang identitas. Identitas yang juga merupakan ciri diri dan kedirian dari manusia. Bahwa manusia mempunyai status yang dengan setatus itulah bisa dipastikan kapasitas dirinya.  Seperti apa identitas / status diri manusia itu, ini sangat bergantung kepada hubungan / relationship manusia dengan sang Maha Pencipta. Hubungan ini juga yang akan menentukan kadar & kapasitas manusia. Ketika hubungannya dengan Kholiq mencapai derajat sangat dekat maka bisa dipastikan ia adalah seorang manusia yang istimewa. Manusia yang boleh jadi kekasih Alloh / habiballoh, habiburrahman …. Dan sebaliknya ketika hubungannya dengan kholiq menjauh dan menjadi sangat jauh, ia adalah seorang manusia yang kufur (abaa wastakbaro – sombong dan takabur).

Pada awalnya status manusia, binatang, tumbuhan dan alam sekitar adalah sama, makhluq (yang diciptakan). Sebab selain Allah adalah alam , ma wsiwalloh fahuwal ‘alam. Dan setiap alam adalah sesuatu yang baru (hadis – dicipta). Maka kita manusia (insan), hayawanat, nabatat adalah alam atau makhluq, produk Al Kholiq.

Pada posisi inilah derajat manusia akan sama dengan makhluq yang lain, hanya saja manusia adalah makhluk pinilih - pilihan Alloh SWT yang dalam penciptaannya disertai dengan suatu kemampuan dasar (potensi diri) yang sangat luar biasa. Dengan potensi inilah manusia akan mampu menempatkan posisi dirinya diatas makhluq lain. Berkenaanhal ini Alloh SWT menginformasikannya lewat Qs. At Tiin.

Potensi diri manusia sering pula disebut Al Fitrah (asal sesuatu) artinya masih berupa potensi-potensi yang dalam perkembangannya bisa saja membaik atau memburuk. Jadi tidak menjamin manusia diciptakan Alloh dalam sebaik-baik kejadian lantas otomatis menjadi orang baik dan dikasihi Alloh SWT.  Finalnya bisa dilihat dan ditentukan sejauhmana manusia itu sendiri mengembangkan fitrahnya kearah kebaikan atau sebaliknya.

Ketika manusia dengan potensi yang ada pada dirinya berusaha berkembang , maka potensi ini dengan kecerdasannya berkembang. Sebab dalam fitrah manusia ada yang disebut af’idah potensi kecerdasan dan kepahaman pada manusia. Af’idah sendiri sangat erat dengan potensi lainnya yang terdapat pada fitrah manusia. Potensi itu masing-masing saling merespon satu sama lainnya sehingga ketika salah satu potensi ’sakit” maka semua akan menjadi sakit dan tidak berfungsi. Potensi itu tiada lain adalah sam’a, abshor dan af’idah . Potensi pedengaran sebagai respon terhadap sesuatu yang harus didengarnya, potensi penglihatan sebagai respon terhadap sesuatu yang harus dilihatnya serta semua itu diolah oleh af’idah sebagai kecenerungan yang menentukan sesuatu itu harus diikuti atau tidak.

Masing-masing potensi bekerja sesuai titah dan perintah Illahi, yang kesemuanya bekerja pada wilayah jiwa dan kejiwaan manusia yang sering pula disebut sebagai pusat kesadaran sebab pada satu kondisi jiwa ini akan berfungsi dan dikuasai aqal dan pada lain kondisi akan sangat dipengaruhi dan didominasi hawa (syahwat – berupa keinginan-keinginan manusia yang bertentangan dengan keinginan illahi).

Pada proses kejadiannya sebagaimana disebutkan dalam Qs. At Tiin diatas, yang dimaksud manusia diciptakan dalam kondisi sebaik-baik kejadian (ahsanit taqwim) adalah pula manusia diberi kekhususan yaitu aql selain manusia dikaruniai syahwat seperti pada makhluq lain. Oleh sebab itulah manusia mempunyai pilihan dalam hidupnya, tidak seperti binatang tumbuhan dan seterusnya.

Nah … inilah  status kita manusia, yang berawal dari / berstatus makhluq untuk kemudian akan meningkat kepada posisi / status yang lebih tinggi dengan syarat kita manusia memfungsikan segenap potensi yang ada pada diri kita ke arah perbaikan. Atau dengan kata lain menjadikan aql sebagai penguasa wilayah jiwa dan kejiwaan kita. Supaya jiwa kita tidak dipenuhi oleh penguasa-penguasa yang cenderung rakus, tidak puas dan tamak sebagai implementasi dari kuatnya hawa yang menjadikan kelamnya wilayah jiwa dan kejiwaan kita.

berlanjut aja ah ….

cag

 


Bagi Anda Yang Kehilangan Identitas

Mei 15, 2008

Pernahkah Anda mengalami kehilangan identitas diri, seperti KTP, SIM, Pasport atau sejenisnya? Bagaiamana perasaan Anda? Merasa tenang, was-was, panik atawa biasa-biasa saja?

Kalau Anda merasa tenang berarti Anda termasuk orang heibat yang mampu menghadapi permasalahan suatu hari ketika menghadapi Razia KTP, ditilang Pak Polisi atau Anda gak bisa berangkat karena bagian pemeriksaan pasport menahan Anda dan tidak jadi berangkat kepada kota tujuan.

Kalau Anda merasa was-was dan panik berati Anda memang orang normal atau orang biasa yang punya rasa takut oleh suatu aturan yang diberlakukan penguasa dimana kita tinggal.

Sebenarnya bukan itu yang saya maksud. Namun sekedar ilustrasi bolehkan saya gambarkan bahwa manusia mempunyai identitas diri sebagai legalitas ia hidup di dunia. Yang dengan legalitas tersebut bolehlah dikatakan bahwa manusia disebut muslim atawa nonmuslim (saya beri contoh dua saja supaya gak bingung).

Dan pada posisi muslim pun akan terbagi menjadi muslim yang taat dan muslim yang pura-pura taat. Atau Anda boleh tambahkan seterusnya sesuai penemuan Anda atawa sebgaimana Anda rasakan, termasuk jenis muslim apakah kita.

Dus, …

Seperti dalam kartu identitas kita tertulis nama, umur, alamat, tanggal lahir serta Agama dan seterusnya, itulah data diri kita dalam ID tersebut.  Namun sekali lagi bukan hanya yang itu, tapi lebih mendasar lagi yaitu identitas dan legalitas kita sebagai makhluq dengan Alloh sebagai kholiq.

Saya, Anda dan mereka teman-teman saya dan Anda semuanya adalah makhluq Alloh SWT. Bahkan tumbuhan (nabatat) dan hewan (hayawanat) adalah juga sama seperti kita, mereka adalah makhluq Alloh Ta’ala. Nah, permasalahannya sudahkah kita merasa bahwa diri kita adalah makhluq / yang dicipta Alloh SWT.

Kemestian dari makhluq tentu ia akan menuruti apa yang kholiqnya kehendaki. Kholiqnya menghendaki A maka makhluq haruslah menjadi A. Kholiq menghendaki merah maka jangan paksakan untuk menjadi putih, pasti gak akan mampu mngubah warna merah menjadi putih. Dan seterusnya dan seterusnya. Artinya, kita sebagai makhluq tak punya pilihan karena kholiq telah menjadikan kita seperti adanya ini. Sekuat apapun kita, sekaya apapun kita atau sesempurna apapun kita tak bisa keluar dari status kita sekarang – sebagai makhluq.

Seperti saya misalnya ingin menjadikan kayu-kayu yang saya punyai menjadi sebuah meja tulis. Maka setelah jadi meja tulis itu, saya adalah ‘kholiq’ nya, creator / pencipta sebuah meja tulis. Maka keberadaan meja tulis tersebut sangatlah bergantung kepada saya. Saya mau meletkannya di tengah rumah, di dapur, di lantai 2 atau dimanapun itu terserah kepada saya. Bahkan mau sya jadikan kayu-kayu kembali itupun bergantunga atas kuasa saya. Bagaimana si meja apakah ia bisa menawar atau usul untuk ditempatkan di tempat A atau B? Tentu tidak mungkin kan.

Tapi ketika sang pencita meja tersebut mendisainnya berbagai rupa dengan rencana penempatnanya, menambahkan aksesoris juga kegunaan spesifik meja itu, maka otomatis meja tersebut akan mempunyai kegunaan serta tempat yang istimewa sesuai kehendak pencipta. Lantas pada suatu saat meja tersebut malah berada ditempat yang jauh dari layak untuk meja sebagus itu … nah bagaimanakah ini?

Jadi harus ada  kesesuaian antara yang diciptakan dengan kehendak sang pencipta. Kessesuaian itu hanya dapat dicapai ketika kita yang diciptakan mampu mengetahui IDENTITAS dirinya. Bagi yang kehilangan identitas diri,  segeralah  temukan ia. Sebab kehilangan identitas berarti hilang status, fungsi, tugas dan tanggung jawab sebagai makhluq Tuhan.

Maka bila berbicara status, siapakah kita?

Berbicara tugas & fungsi, bertindak sebagai apakah kita & apa yang harus kita lakukan?

Berbicara tanggung jawab, apakah yang mesti kita jaga/amankan ?

Itulah barangkali IDENTITAS yang mesti kita temukan, kalaa memang identitas itu hilang dari diri kita.

>>>> Temukan identitas kita (MAKHLUQ) pada tulisan selanjutnya !!!!

cag