Wilayah Kejiwaan Manusia

Mei 29, 2008

Identitas: Status Kedirian Manusia

Subhanalloh, cibuk pisan euy jadi baru nongol lagi neeh.Salam sejahtera bagi kita semua.

Emmm…. pada tulisan saya yang lalu menyinggung tentang identitas. Identitas yang juga merupakan ciri diri dan kedirian dari manusia. Bahwa manusia mempunyai status yang dengan setatus itulah bisa dipastikan kapasitas dirinya.  Seperti apa identitas / status diri manusia itu, ini sangat bergantung kepada hubungan / relationship manusia dengan sang Maha Pencipta. Hubungan ini juga yang akan menentukan kadar & kapasitas manusia. Ketika hubungannya dengan Kholiq mencapai derajat sangat dekat maka bisa dipastikan ia adalah seorang manusia yang istimewa. Manusia yang boleh jadi kekasih Alloh / habiballoh, habiburrahman …. Dan sebaliknya ketika hubungannya dengan kholiq menjauh dan menjadi sangat jauh, ia adalah seorang manusia yang kufur (abaa wastakbaro – sombong dan takabur).

Pada awalnya status manusia, binatang, tumbuhan dan alam sekitar adalah sama, makhluq (yang diciptakan). Sebab selain Allah adalah alam , ma wsiwalloh fahuwal ‘alam. Dan setiap alam adalah sesuatu yang baru (hadis – dicipta). Maka kita manusia (insan), hayawanat, nabatat adalah alam atau makhluq, produk Al Kholiq.

Pada posisi inilah derajat manusia akan sama dengan makhluq yang lain, hanya saja manusia adalah makhluk pinilih – pilihan Alloh SWT yang dalam penciptaannya disertai dengan suatu kemampuan dasar (potensi diri) yang sangat luar biasa. Dengan potensi inilah manusia akan mampu menempatkan posisi dirinya diatas makhluq lain. Berkenaanhal ini Alloh SWT menginformasikannya lewat Qs. At Tiin.

Potensi diri manusia sering pula disebut Al Fitrah (asal sesuatu) artinya masih berupa potensi-potensi yang dalam perkembangannya bisa saja membaik atau memburuk. Jadi tidak menjamin manusia diciptakan Alloh dalam sebaik-baik kejadian lantas otomatis menjadi orang baik dan dikasihi Alloh SWT.  Finalnya bisa dilihat dan ditentukan sejauhmana manusia itu sendiri mengembangkan fitrahnya kearah kebaikan atau sebaliknya.

Ketika manusia dengan potensi yang ada pada dirinya berusaha berkembang , maka potensi ini dengan kecerdasannya berkembang. Sebab dalam fitrah manusia ada yang disebut af’idah potensi kecerdasan dan kepahaman pada manusia. Af’idah sendiri sangat erat dengan potensi lainnya yang terdapat pada fitrah manusia. Potensi itu masing-masing saling merespon satu sama lainnya sehingga ketika salah satu potensi ‘sakit” maka semua akan menjadi sakit dan tidak berfungsi. Potensi itu tiada lain adalah sam’a, abshor dan af’idah . Potensi pedengaran sebagai respon terhadap sesuatu yang harus didengarnya, potensi penglihatan sebagai respon terhadap sesuatu yang harus dilihatnya serta semua itu diolah oleh af’idah sebagai kecenerungan yang menentukan sesuatu itu harus diikuti atau tidak.

Masing-masing potensi bekerja sesuai titah dan perintah Illahi, yang kesemuanya bekerja pada wilayah jiwa dan kejiwaan manusia yang sering pula disebut sebagai pusat kesadaran sebab pada satu kondisi jiwa ini akan berfungsi dan dikuasai aqal dan pada lain kondisi akan sangat dipengaruhi dan didominasi hawa (syahwat – berupa keinginan-keinginan manusia yang bertentangan dengan keinginan illahi).

Pada proses kejadiannya sebagaimana disebutkan dalam Qs. At Tiin diatas, yang dimaksud manusia diciptakan dalam kondisi sebaik-baik kejadian (ahsanit taqwim) adalah pula manusia diberi kekhususan yaitu aql selain manusia dikaruniai syahwat seperti pada makhluq lain. Oleh sebab itulah manusia mempunyai pilihan dalam hidupnya, tidak seperti binatang tumbuhan dan seterusnya.

Nah … inilah  status kita manusia, yang berawal dari / berstatus makhluq untuk kemudian akan meningkat kepada posisi / status yang lebih tinggi dengan syarat kita manusia memfungsikan segenap potensi yang ada pada diri kita ke arah perbaikan. Atau dengan kata lain menjadikan aql sebagai penguasa wilayah jiwa dan kejiwaan kita. Supaya jiwa kita tidak dipenuhi oleh penguasa-penguasa yang cenderung rakus, tidak puas dan tamak sebagai implementasi dari kuatnya hawa yang menjadikan kelamnya wilayah jiwa dan kejiwaan kita.

berlanjut aja ah ….

cag

 


AKU MENCIUM BAU SYURGA DI BUKIT UHUD

Mei 27, 2008

Bukit Uhud mengingatkan kita kepada salah seorang syahid dari banyak syahidin yang gugur disana. Salah seorang syahid Uhud adalah HAMZAH, r.a. Ketika sebilah tombak menghujam dan membelah dadanya, hamzahpun jatuh bersimbah darah syahid di bukit Uhud.

Sebelum menemui syahidnya Hamzah berteriak ” Aku mencium bau syurga di bukit Uhud.” dan ucapannya menjadi pertanada bahwa dia benar-benar menemukan syurga disana dengan hujaman sebilah tombah.

Bagaimana menurut Anda para pembaca?


Indonesia dan tradisi gosip

Mei 17, 2008

Gosip, merupakan salahsatu tradisi tertua dalam sejarah manusia. Turun temurun dan diwariskan kesetiap setiap generasi. Entah bagaimana jadinya manusia tanpa gosip, sendiri dan sunyi …kalie? Ah .. kesendirian adalah penjara bagi manusia normal dan ingin berkembang pada suatu masyarakat, komunitas tertentu.

Gosip, bagi sebagian orang merupakan kebutuhan. Sebagai makhluk sosial tak bisa dipungkiri bahwa manusia selalu memenuhi hasratnya dengan berinteraksi sesamanya. Berkumpul , ngobrol serta bertukar pikiran adalah juga kecenderungan yang harus tersalurkan. Dari interaksi inilah timbul suatu kebiasaan ngerumpi alias ngegosip juga lebih jauhnya menjadi tradisi gosip yang sangat susah dilerai karena keasyikanya. Maka bagi ‘kaum’ yang suka ngegosip tiada hari tanpa gosip tiada waktu berlalu tanpa gosip (semakin digosok semakin siiiip, … hehe).

Dan anehnya penggosip selalu punya ide untuk episode-episode dalam kesehariannya (kreatif banget ya). Habis topik yang satu maka akan timbul topik Hidayat …. eh … sorry topik yang lain.

Seiring perkembangan zaman dan teknologi gosip pun menjadi tren berbagai lapisan masyarakat. Satu hal yang menjadi  acara yang ‘wajib’ bagi setiap stasion TV yang ada di tanah air kita ini. Kalau gosip jaman dahulu adalah di serambi atau do ‘golodog’ (sunda), maka sekarang sudah lebih meluas lagi. Bisa dikamar, ditengah rumah, di dapur bahkan di WC sekalipun gosip bisa dilaksanakan melalui acara televisi itu.

Seorang Host, presenter harus punya ‘modal / bakat’ gosip dalam membawakan acara yang ditayangkan. Karena tanpa itu kayaknya kurang afdol tuhh.

Gosip telah menjadi konsumsi seluruh insan di Indonesia. Tak terkecuali anak-anak di bawah umur atau manula sekalipun, mereka menjadi penikmat acara gosip. Jadi …. gosip memang telah menjadi budaya dan melembaga bahkan “sudah tradiiisi”, ya …. gosip telah menjadi tradisi masyarakat Indonesia pada umumnya. 

 Ada anekdot tentang Indosesia dan gosip ini. Bahwa orang Indonesia terkenal sebagai penggosip alias tukang gosip. Suatu ketika berlayarlah orang Indonesia bersama sama orang Francis dan Jepang menuju suatu tujuan nun jauh disana. Malang pun tak bisa di halang kapal yang mereka tumpangi terdampar disatu pulau karena badai yang menyeretnya ke pulau tak bertuan itu, entah pulau apa namanya.

Singkat cerita mereka telah berlalu belasan tahun dipulau itu. Bukan tak ada usaha untuk keluar pulau itu, namun nasib mereka rupanya kurang beruntung. Hingga pada suatu hari mereka bertemu dengan seorang Jin dan menjanjikan akan mengabulkan 3 permohonan untuk 3 orang tersebut.

pertama orang jepang yang ditanya. “Wahai Nipon apa yang kau inginkan?” Si Jepang menjawab, “aku rindu kerja wahai Jin, maka kembalikan aku ke Jepang untuk bekerja.” Sim slabim, si Jepang pun diatarkan ke negaranya.

Lantas Si orang Ferancis, “Kalau aku sudah sangat rindu restauran, aku ingin sekali menikmati hidangan lezat disana”, maka dia pun dikembalikan ke Francis.

Giliran orang kita neeh…. orang Indonesia. Si Jin bertanya, “Wahai orang Andonesa …, Apa yang kamu inginkan ..?” Si Andonesa neeh … celingukan sambil garuk kepala. ” Aku … aku ingin kembalikan mereka berdua kemari ..!! ???

Inilah orang kita saking dah ketagihan ngegosip sama Si Francis dan orang Nipon, permintaannya pun ingin mereka bersama-sama di pulau itu.

Mungkin dah keahliannya kalie … syapa tahu ada hikmahnya dalam hal itu, .. he..he.

NGEGOSIP DALAM PANDANGAN ISLAM

gosip = ghibah, sebab dalam ghosip ada ghibah dan dalam ghibah tentu ada ghosip. Terlepas dari hal mana yang digosipiin, artinya baik atau buruk. Sekali ghibah ya ghibah …. dan dosa menurut sebagian ulama. Apalagi gosip yang mengandung profokasi (namimmah) dst. Lengkaplah gosip jadi sarang kejelekan. Biang gosip akan senang dan tertawa terbahak-bahak ketika kita terjebak pad aperngkapnya yang berupa ghibah ini.

Kalaulah ghosip itu berujud dan dapat digenggam kemudian dilempar ke lautan , maka lautan itu akan menjadi hitam, demikia Rosululloh dalam suatu hadisnya. Gosip memang suatu hal yang sangat dibenci Rosul juga Alloh SWT. Jangankan merendahkan orang atau membicarakan aib orang, membicarakan hal kebaikan orang pun termasuk ghibah…. waaww dahsyatnya.

Naah…gimana neeh para sohib? sedangkan kita terutama kaum hawa neeh suka banget tuh ngegosip. Entah di kantor, dirumah atawa dimana saja gosip dah jadi tradisi. Setelah tahu bahwa gosip ini sesuatu hal tercela … kurangi dulu deeh, atawa kata yang tepat STOP GOSIP. Karena dengan gosip bukan lebih nambah ilmu, yang jelah lebih banyak kejelekan tersebar. Bukan satu orang yang kena imbas dosa melainkan banyak orang, ya sekitaran orang-orang yang ngegosip itu lah..

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang diturunkan Allah”. Mereka menjawab: “(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)? (Qs. Luqman: 21)

Atawa coba deh dibuka QS. Al Hujurot: 12

cag


Bagi Anda Yang Kehilangan Identitas

Mei 15, 2008

Pernahkah Anda mengalami kehilangan identitas diri, seperti KTP, SIM, Pasport atau sejenisnya? Bagaiamana perasaan Anda? Merasa tenang, was-was, panik atawa biasa-biasa saja?

Kalau Anda merasa tenang berarti Anda termasuk orang heibat yang mampu menghadapi permasalahan suatu hari ketika menghadapi Razia KTP, ditilang Pak Polisi atau Anda gak bisa berangkat karena bagian pemeriksaan pasport menahan Anda dan tidak jadi berangkat kepada kota tujuan.

Kalau Anda merasa was-was dan panik berati Anda memang orang normal atau orang biasa yang punya rasa takut oleh suatu aturan yang diberlakukan penguasa dimana kita tinggal.

Sebenarnya bukan itu yang saya maksud. Namun sekedar ilustrasi bolehkan saya gambarkan bahwa manusia mempunyai identitas diri sebagai legalitas ia hidup di dunia. Yang dengan legalitas tersebut bolehlah dikatakan bahwa manusia disebut muslim atawa nonmuslim (saya beri contoh dua saja supaya gak bingung).

Dan pada posisi muslim pun akan terbagi menjadi muslim yang taat dan muslim yang pura-pura taat. Atau Anda boleh tambahkan seterusnya sesuai penemuan Anda atawa sebgaimana Anda rasakan, termasuk jenis muslim apakah kita.

Dus, …

Seperti dalam kartu identitas kita tertulis nama, umur, alamat, tanggal lahir serta Agama dan seterusnya, itulah data diri kita dalam ID tersebut.  Namun sekali lagi bukan hanya yang itu, tapi lebih mendasar lagi yaitu identitas dan legalitas kita sebagai makhluq dengan Alloh sebagai kholiq.

Saya, Anda dan mereka teman-teman saya dan Anda semuanya adalah makhluq Alloh SWT. Bahkan tumbuhan (nabatat) dan hewan (hayawanat) adalah juga sama seperti kita, mereka adalah makhluq Alloh Ta’ala. Nah, permasalahannya sudahkah kita merasa bahwa diri kita adalah makhluq / yang dicipta Alloh SWT.

Kemestian dari makhluq tentu ia akan menuruti apa yang kholiqnya kehendaki. Kholiqnya menghendaki A maka makhluq haruslah menjadi A. Kholiq menghendaki merah maka jangan paksakan untuk menjadi putih, pasti gak akan mampu mngubah warna merah menjadi putih. Dan seterusnya dan seterusnya. Artinya, kita sebagai makhluq tak punya pilihan karena kholiq telah menjadikan kita seperti adanya ini. Sekuat apapun kita, sekaya apapun kita atau sesempurna apapun kita tak bisa keluar dari status kita sekarang – sebagai makhluq.

Seperti saya misalnya ingin menjadikan kayu-kayu yang saya punyai menjadi sebuah meja tulis. Maka setelah jadi meja tulis itu, saya adalah ‘kholiq’ nya, creator / pencipta sebuah meja tulis. Maka keberadaan meja tulis tersebut sangatlah bergantung kepada saya. Saya mau meletkannya di tengah rumah, di dapur, di lantai 2 atau dimanapun itu terserah kepada saya. Bahkan mau sya jadikan kayu-kayu kembali itupun bergantunga atas kuasa saya. Bagaimana si meja apakah ia bisa menawar atau usul untuk ditempatkan di tempat A atau B? Tentu tidak mungkin kan.

Tapi ketika sang pencita meja tersebut mendisainnya berbagai rupa dengan rencana penempatnanya, menambahkan aksesoris juga kegunaan spesifik meja itu, maka otomatis meja tersebut akan mempunyai kegunaan serta tempat yang istimewa sesuai kehendak pencipta. Lantas pada suatu saat meja tersebut malah berada ditempat yang jauh dari layak untuk meja sebagus itu … nah bagaimanakah ini?

Jadi harus ada  kesesuaian antara yang diciptakan dengan kehendak sang pencipta. Kessesuaian itu hanya dapat dicapai ketika kita yang diciptakan mampu mengetahui IDENTITAS dirinya. Bagi yang kehilangan identitas diri,  segeralah  temukan ia. Sebab kehilangan identitas berarti hilang status, fungsi, tugas dan tanggung jawab sebagai makhluq Tuhan.

Maka bila berbicara status, siapakah kita?

Berbicara tugas & fungsi, bertindak sebagai apakah kita & apa yang harus kita lakukan?

Berbicara tanggung jawab, apakah yang mesti kita jaga/amankan ?

Itulah barangkali IDENTITAS yang mesti kita temukan, kalaa memang identitas itu hilang dari diri kita.

>>>> Temukan identitas kita (MAKHLUQ) pada tulisan selanjutnya !!!!

cag

 


Pengabdian 1/2 hati

Mei 15, 2008

Puji syukur kepada Mu yaa Alloh, pagi ini Engkau izinkan kami kembali beraktivitas menjalankan tugas-tugas horizontal sebgai hubungan sesama manusia setelah lima pos kami lalui dan senantiasa akan kami jalankan dengan seizin MU. Tadi pagi pos pertama telah kami lalui, walau selalu kurang tawadlu tapi tetap kami usahakan untuk bersimpuh dan merendah di hadapan Mu. Walau dengan 1/2 kehadiran hati kami karena terlalu banyak keduaniaan yang kami terus pikirkan sehingga hati dan pikir kami tak konsentrasi sekalipun kami sedang menghadap Mu. Namun 1/2 dari hati kami tetap kami usahakan untuk Mu, … ampun yaa Alloh sebab kami belum bisa total menghadap Mu dalam kehidupan ini bahkan ketika sedang menghadap Mu pada setiap pos pemberhentian yang telah Engkau dan Rosulmu tetapkan. Pos Pagi, pos siang, pos sore, pos menjelang malam serta pos malam-malam Mu kami lalui dan laksanakan semuanya dengan 1/2 hati. Mungkin pengabdian kami baru 1/2 hati.

Para penjaga pos-pos Mu akan murka kepada kami karena 1/2 pengabdian kami. Padahal titah dan perintahmu menghendaki totalitas dalam  pengabdian. Karena agama Mu (Islam) adalah totalitas ketundukpatuhan (taslim) seorang makhluq kepada Mu (Kholik) dengan segenap kemampuan yang dimiliki. Sehingga atas nama ketunduk patuhan itu (muslim) akan mampu menyampaikan dirinya kepada derajat kesalamatan (saliman, islaman) dari Yang Maha Memberikan Selamat. Karena, kami yakin bahwa:

Engkau adalah yang memberi selamat

dan dari Engkau keselamatan

dan kepada Engkau kami memohon keselamatan

maka hidupkanlah kami dalam kedamaian dan keselamatan

dan masukan kami kedalam surga keselamatan

Maha Suci Engkau,

Engkau Maha Gagah serta Maha Mulia


Antara Do’a dan Harapan

Mei 14, 2008

Selamat pagi, Salam sejahtera untuk kita semua.

Seusai shalat subuh berjama’ah di masjid pagi tadi kami ngumpul membicarakan program infaq kematian. Kang Didin yang ditunjuk sebagai ketua program ini menginformasikan hasil kerjanya, terutama menyangkut DKM dengan lembaga Ke Rw an. Hasilnya cukup bagus, program ini bisa digulirkan. Disela-sela obrolan setelah bahasan program kematian itu Kang Agus yang termenung sejak obrolan dimulai baru berkomentar. “Kadang apa yang kita harapkan tidak jadi kenyataan, bahkan do’a yang kita panjatkan serasa tidak mempunyai jawaban” ujarnya. Kami semua yang hadir disana menahan nafas dan tertegun. Memikirkan kalimat yang baru saja terujar. “Itulah dhon (prasangka) kebanyakan dari kita, walau kita gak mengucapkannya karena kita msih mempunyai rasa takut dengan konsekuensi ucapak kita”, tambahnya. Obrolan pun jadi semakin menghangat, namun waktu sudah menunjukan pukul 06.00 Wib waktunya berangkat kerja. Apalagi kebanyakan dari kami yang hadir semua jauh dari tempat kerjanya, maklum kami mukim di pinggiran kota Bandung.

Ungkapan kang Agus di atas mungkin juga mewakili dari kebanyakan kita. Kadang kita merasa lelah berdo’a, padahal Alloh tidak akan lelah dan bosan kabulkan permintaan kita. Harapan-harapan kita tak kunjung menjadi kenyataan, padahal justru kehidupan yang kita jalani adalah jawaban-jawaban dari Sang Maha Pengabul Do’a atas semua harapan kita. Permasalahannya adalah sejauh mana kita paham terhadap do’a dan harapan kita. Sudahkah kita reorientasi do’a dan harapan kita? Apakah ketika kita panjatkan do’a demi suatu harapan, kita sertakan kepentingan agama?  Atau sudahkah kita pintakan juga kepentingan orang-orang sekitar kita yang jauh lebih membutuhkan ‘penjelmaan’ dari sebuah harpannya? Sudahkah kita mohonkan ampunan untuk orang tua kita, sebelum mohon ampunan untuk kita? Satu-satu orang yang sangat berjasa kepada kita bayangkan dan kita mohonkan ampun untuk mereka, mohonkan keberkahan untuk mereka serta mohonkan kekuatan ketika mereka sangat-sangat lemah dan membutuhkan pertolongan, … sudahkah?

Kebanyakan dari kita egois dalam hal berdo’a, sangat jarang kita memohonkan sesuatu untuk saudara kita. Kita terlalu sibuk dengan daftar harapan-harapan dan doa’a kita sendiri dan jarang bahkan tidak sama sekali memikirkan harapan-harapan yang mungkin lebih pantas diberikan  untukmereka dari pada kita. Daftar permohonan kita berubah setiap hari, hari ini A, besok B dan besoknya lagi C dan terus … berubah.

Hakikatnya do’a adalah usaha bathin kita untuk mewujudkan semua harapan-harapan kita. Namun ketika harapan itu belum kita gapai, do’a yang kita panjatkan belum terwujud ketahuilah bahwa sesutau tengah terjadi. Sesuatu tengah kita gapai, sesuatu tengah wujud bersama kehidupan kita. Secara tidak kita sadari semua permohonan kita tengah diproses oleh Sang Maha Mengbulkan Do’a – Alloh SWT. Nah, permasalahan selanjutnya adalah kesiapan kita menghadapi sesuatu itu dalam hidup kita. Bisakah kita terima keadaan kita dengan apa adanya (qonaah). Sebab hidup terindah adalah “MENERIMA APA YANG ADA, SENANTIASA BERUSAHA UNTUK MEREALISASIKAN SEMUA HARAPAN KITA”.


Lanjutan …. dari tulisan PT Untung Terus

Mei 13, 2008

Selamat pagi, salam sejahtera bagi kita semua.

Pada tulisan tempo hari saya kemukakan bisnis atawa perniagaan yang tidak akan merugi berlaba tinggi dan tentu abadi. Hanya saja orang-orang kurang berminat kepada perniagaan ini, kecuali orang yang sangat-sangat menyadari serta berminat tinggi yang dapat bergabung di bisnis ini. Mereka adalah orang-orang yang terpilih dan dipilih melalui seleksi yang ketat dari seantero jagat raya ini (musthofainal ahyar … maaf kalo salah tulis).

Karena pada dasarnya manusia mempunyai potensi yang sama, semenjak ia dilahirkan bahkan sebelum ia dilahirkan Alloh SWT telah memberikan potensi tersebut sebagai modal dasar hidup dan ibadah kepada Nya. Potensi tersebut (dibaca fitrah) berupa kecenderungan-kecenderungan kepada  hal  mendasar sebagai inti diri serta sifat-sifat manusia sebagai perwujudan dari sifat-sifat Alloh SWT. Diantara sifat Alloh adalah ar-rohmaan yang artinya maha pengasih, maka manusia diciptakan Alloh dengan bahan dasar – karakter menyayangi sesamanya. Inilah sebuah potensi pada diri manusia. boleh jadi setelah ia tumbuh berkembang melalui tahapan-tahapan usia ia akan menjadi seorang yang sangat penyayang atau  sebaliknya. Sebab potensi ‘membenci’ pun fitrah yang diwariskan sang pencipta. Artinya potensi baik dan buruk semua manusia mewarisinya, hanya bagian mana yang berkembang, bergantung manusia itu sendiri yang menjalaninya.  

Yang dimaksud dengan bergantung kepada manusianya itu sendiri tentu dengan faktor-faktor yang mepengaruhinya. Pertama, ia bergantung kepada faktor orang tuanya. Peranan orang tua sangat-sangat menentukan, sebab orang tua yang mempunyai sebuah visi kehidupan akan secara otomatis menerapkan visi tersebut kepada anak-anaknya. Dan visi inilah yang menjadi kerangka perkembangan si anak. Orang tua ingin menjadikan anaknya seorang yahudi misalnya, maka jadilah ia seorang yahudi. Atawa orang tua ingi menjadikan anaknya seoran Nashrani, maka jadilah ia seorang Nashrani. Bahkan ketika orang tua ingin menjadikan anaknya seorang penyembah api (Majusi), majusilah anaknya kelak.

Kedua, perkembangan fitroh manusia juga akan ditentukan oleh lingkungan dimana ia tinggal. Lingkungan ‘hitam’ sedikit banyaknya akan mewarnai seseorang menjadi hitam, paling tidak abu kalau warna dasar seseorang itu adalah ‘putih’. Lingkungan santri akan mewarnai seseorang menjadi santri juga, atau paling tidak ia tau tentang kesantiran, pesantren termasik di dalamnya. Begaitulah lingkungan mewarnai atau ikut menentukan perkembangan fitrah manusia. Seorang pencuri tidak akan terlahir dari lingkungan orang-orang yang suka memberi tetapi ia akan dilahirkan serta dibesarkan dilingkungan pencuri pula. 

Selanjutnya hal yang juga berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan fitrah seseorang adalah lingkungannya. Gak jauh beda sebenarnya dari lengkungan, namun pergaulan ini lebih mengarah pada perkembangan pola pikir seseorang. Opini,  isme, way of life  akan terlahir dari sini yang selanjutnya diimplementasikan kepada tindak tanduk keseharian. Dan itulah jati diri seseorang sebagai hasil dari perkembangan fitrohnya. Fitroh yang melalui dukungan orang tua, lingkungan serta pergaulan yang merupakan habitatnya.

 Inilah orang-orang yang terpilih dan dipilih sebagai calon pebisnis-pebisnis handal di bisnis PT Untung Terus. Mereka adalah orang-orang yang terlebih dahulu  mengembangkan dirinya agar menjadi pribadi yang teguh pendirian, tangguh atas berbagai cobaan dan mampu merealisaikan dari pendiriannya untuk meraih kesuksesan abadi.

cag.