Bagi Anda Yang Kehilangan Identitas

Pernahkah Anda mengalami kehilangan identitas diri, seperti KTP, SIM, Pasport atau sejenisnya? Bagaiamana perasaan Anda? Merasa tenang, was-was, panik atawa biasa-biasa saja?

Kalau Anda merasa tenang berarti Anda termasuk orang heibat yang mampu menghadapi permasalahan suatu hari ketika menghadapi Razia KTP, ditilang Pak Polisi atau Anda gak bisa berangkat karena bagian pemeriksaan pasport menahan Anda dan tidak jadi berangkat kepada kota tujuan.

Kalau Anda merasa was-was dan panik berati Anda memang orang normal atau orang biasa yang punya rasa takut oleh suatu aturan yang diberlakukan penguasa dimana kita tinggal.

Sebenarnya bukan itu yang saya maksud. Namun sekedar ilustrasi bolehkan saya gambarkan bahwa manusia mempunyai identitas diri sebagai legalitas ia hidup di dunia. Yang dengan legalitas tersebut bolehlah dikatakan bahwa manusia disebut muslim atawa nonmuslim (saya beri contoh dua saja supaya gak bingung).

Dan pada posisi muslim pun akan terbagi menjadi muslim yang taat dan muslim yang pura-pura taat. Atau Anda boleh tambahkan seterusnya sesuai penemuan Anda atawa sebgaimana Anda rasakan, termasuk jenis muslim apakah kita.

Dus, …

Seperti dalam kartu identitas kita tertulis nama, umur, alamat, tanggal lahir serta Agama dan seterusnya, itulah data diri kita dalam ID tersebut.  Namun sekali lagi bukan hanya yang itu, tapi lebih mendasar lagi yaitu identitas dan legalitas kita sebagai makhluq dengan Alloh sebagai kholiq.

Saya, Anda dan mereka teman-teman saya dan Anda semuanya adalah makhluq Alloh SWT. Bahkan tumbuhan (nabatat) dan hewan (hayawanat) adalah juga sama seperti kita, mereka adalah makhluq Alloh Ta’ala. Nah, permasalahannya sudahkah kita merasa bahwa diri kita adalah makhluq / yang dicipta Alloh SWT.

Kemestian dari makhluq tentu ia akan menuruti apa yang kholiqnya kehendaki. Kholiqnya menghendaki A maka makhluq haruslah menjadi A. Kholiq menghendaki merah maka jangan paksakan untuk menjadi putih, pasti gak akan mampu mngubah warna merah menjadi putih. Dan seterusnya dan seterusnya. Artinya, kita sebagai makhluq tak punya pilihan karena kholiq telah menjadikan kita seperti adanya ini. Sekuat apapun kita, sekaya apapun kita atau sesempurna apapun kita tak bisa keluar dari status kita sekarang – sebagai makhluq.

Seperti saya misalnya ingin menjadikan kayu-kayu yang saya punyai menjadi sebuah meja tulis. Maka setelah jadi meja tulis itu, saya adalah ‘kholiq’ nya, creator / pencipta sebuah meja tulis. Maka keberadaan meja tulis tersebut sangatlah bergantung kepada saya. Saya mau meletkannya di tengah rumah, di dapur, di lantai 2 atau dimanapun itu terserah kepada saya. Bahkan mau sya jadikan kayu-kayu kembali itupun bergantunga atas kuasa saya. Bagaimana si meja apakah ia bisa menawar atau usul untuk ditempatkan di tempat A atau B? Tentu tidak mungkin kan.

Tapi ketika sang pencita meja tersebut mendisainnya berbagai rupa dengan rencana penempatnanya, menambahkan aksesoris juga kegunaan spesifik meja itu, maka otomatis meja tersebut akan mempunyai kegunaan serta tempat yang istimewa sesuai kehendak pencipta. Lantas pada suatu saat meja tersebut malah berada ditempat yang jauh dari layak untuk meja sebagus itu … nah bagaimanakah ini?

Jadi harus ada  kesesuaian antara yang diciptakan dengan kehendak sang pencipta. Kessesuaian itu hanya dapat dicapai ketika kita yang diciptakan mampu mengetahui IDENTITAS dirinya. Bagi yang kehilangan identitas diri,  segeralah  temukan ia. Sebab kehilangan identitas berarti hilang status, fungsi, tugas dan tanggung jawab sebagai makhluq Tuhan.

Maka bila berbicara status, siapakah kita?

Berbicara tugas & fungsi, bertindak sebagai apakah kita & apa yang harus kita lakukan?

Berbicara tanggung jawab, apakah yang mesti kita jaga/amankan ?

Itulah barangkali IDENTITAS yang mesti kita temukan, kalaa memang identitas itu hilang dari diri kita.

>>>> Temukan identitas kita (MAKHLUQ) pada tulisan selanjutnya !!!!

cag

 

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: