Wilayah Kejiwaan Manusia

Identitas: Status Kedirian Manusia

Subhanalloh, cibuk pisan euy jadi baru nongol lagi neeh.Salam sejahtera bagi kita semua.

Emmm…. pada tulisan saya yang lalu menyinggung tentang identitas. Identitas yang juga merupakan ciri diri dan kedirian dari manusia. Bahwa manusia mempunyai status yang dengan setatus itulah bisa dipastikan kapasitas dirinya.  Seperti apa identitas / status diri manusia itu, ini sangat bergantung kepada hubungan / relationship manusia dengan sang Maha Pencipta. Hubungan ini juga yang akan menentukan kadar & kapasitas manusia. Ketika hubungannya dengan Kholiq mencapai derajat sangat dekat maka bisa dipastikan ia adalah seorang manusia yang istimewa. Manusia yang boleh jadi kekasih Alloh / habiballoh, habiburrahman …. Dan sebaliknya ketika hubungannya dengan kholiq menjauh dan menjadi sangat jauh, ia adalah seorang manusia yang kufur (abaa wastakbaro – sombong dan takabur).

Pada awalnya status manusia, binatang, tumbuhan dan alam sekitar adalah sama, makhluq (yang diciptakan). Sebab selain Allah adalah alam , ma wsiwalloh fahuwal ‘alam. Dan setiap alam adalah sesuatu yang baru (hadis – dicipta). Maka kita manusia (insan), hayawanat, nabatat adalah alam atau makhluq, produk Al Kholiq.

Pada posisi inilah derajat manusia akan sama dengan makhluq yang lain, hanya saja manusia adalah makhluk pinilih – pilihan Alloh SWT yang dalam penciptaannya disertai dengan suatu kemampuan dasar (potensi diri) yang sangat luar biasa. Dengan potensi inilah manusia akan mampu menempatkan posisi dirinya diatas makhluq lain. Berkenaanhal ini Alloh SWT menginformasikannya lewat Qs. At Tiin.

Potensi diri manusia sering pula disebut Al Fitrah (asal sesuatu) artinya masih berupa potensi-potensi yang dalam perkembangannya bisa saja membaik atau memburuk. Jadi tidak menjamin manusia diciptakan Alloh dalam sebaik-baik kejadian lantas otomatis menjadi orang baik dan dikasihi Alloh SWT.  Finalnya bisa dilihat dan ditentukan sejauhmana manusia itu sendiri mengembangkan fitrahnya kearah kebaikan atau sebaliknya.

Ketika manusia dengan potensi yang ada pada dirinya berusaha berkembang , maka potensi ini dengan kecerdasannya berkembang. Sebab dalam fitrah manusia ada yang disebut af’idah potensi kecerdasan dan kepahaman pada manusia. Af’idah sendiri sangat erat dengan potensi lainnya yang terdapat pada fitrah manusia. Potensi itu masing-masing saling merespon satu sama lainnya sehingga ketika salah satu potensi ‘sakit” maka semua akan menjadi sakit dan tidak berfungsi. Potensi itu tiada lain adalah sam’a, abshor dan af’idah . Potensi pedengaran sebagai respon terhadap sesuatu yang harus didengarnya, potensi penglihatan sebagai respon terhadap sesuatu yang harus dilihatnya serta semua itu diolah oleh af’idah sebagai kecenerungan yang menentukan sesuatu itu harus diikuti atau tidak.

Masing-masing potensi bekerja sesuai titah dan perintah Illahi, yang kesemuanya bekerja pada wilayah jiwa dan kejiwaan manusia yang sering pula disebut sebagai pusat kesadaran sebab pada satu kondisi jiwa ini akan berfungsi dan dikuasai aqal dan pada lain kondisi akan sangat dipengaruhi dan didominasi hawa (syahwat – berupa keinginan-keinginan manusia yang bertentangan dengan keinginan illahi).

Pada proses kejadiannya sebagaimana disebutkan dalam Qs. At Tiin diatas, yang dimaksud manusia diciptakan dalam kondisi sebaik-baik kejadian (ahsanit taqwim) adalah pula manusia diberi kekhususan yaitu aql selain manusia dikaruniai syahwat seperti pada makhluq lain. Oleh sebab itulah manusia mempunyai pilihan dalam hidupnya, tidak seperti binatang tumbuhan dan seterusnya.

Nah … inilah  status kita manusia, yang berawal dari / berstatus makhluq untuk kemudian akan meningkat kepada posisi / status yang lebih tinggi dengan syarat kita manusia memfungsikan segenap potensi yang ada pada diri kita ke arah perbaikan. Atau dengan kata lain menjadikan aql sebagai penguasa wilayah jiwa dan kejiwaan kita. Supaya jiwa kita tidak dipenuhi oleh penguasa-penguasa yang cenderung rakus, tidak puas dan tamak sebagai implementasi dari kuatnya hawa yang menjadikan kelamnya wilayah jiwa dan kejiwaan kita.

berlanjut aja ah ….

cag

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: