The Frozen

Ingat teori titik api? Dimana kita akan semakin hangat bahkan merasakan panas ketika kita dekat dan sangat dekat dengan pusat api, sebaliknya kita akan merasa dingin, kedinginan bahkan membeku ketika kita menjauh dari pusat api. Bumi yang kita huni, bergeser sedikit saja menjauh dari matahari maka bumi itupun akan hancur karena beku, begitupun bergeser sedikit saja mendekat kepada matahari, maka bumi akan hancur karena terbakar. Subhanalloh demikianlah Alloh menciptakan segala sesuatu di dunia ini dengan ukuran. Bumi berputar pada porosnya, matahari serta planet-planet yang ada di jagat raya ini berjalan dengan ukuran dan ketentuannya.
Hangus terbakar atau membeku, dua hal – keadaan akibat sebuah pergeseran. Sebagaimana disinggung di atas bahwa sangat-sangat diperlukan konsisten pada satu ukuran dan ketetapan, supaya terpeliharanya keharmonisan hidup dan kehidupan ini. Konsisten pada satu ukuran artinya ketika kita menyadari kadar panas yang cukup untuk diri kita pada satu posisi, maka janganlah kita mencoba untuk bergeser menjauh dari posisi tersebut. Atau ketika kita merasakan kehangatan sumber api itu berkurang dan mulai terasa dingin, maka kita segera sadar bahwa kita telah bergeser dari paosisi dimana kita tegak berdiri, menjauh dari sumber kehangatan.
Ketentuan/ketetapan itu adalah kadar yang akan terima ketika kita telah menentukan jarak antaera kita dengan sumber kehangatan tersebut. Panas bergelora, hangat dan adem, dingin menggigil bahkan membeku. Barangkali itu ketentuannya menurut uraian di atas.
The frozen yang saya jadikan judul oret-oretan ini adalah satu penelaahan saya ketika saya kembali mereorientasi perjalanhidup saya yang hampir menjelang setengah abad. Sungguh pelajaran yang berarti bagi saya, dan saya ingin berbagi dengan semua. Bahwa ketika tiang pancang pemberangkatan telah tertancap dan di depan membantang garis menuju tujuan hidup dan kehidupan yang telah ditetapkan. Maka jarak diri dan sumber energi (titik api kehangatan, iman) adalah sangat sangat menentukan. Bagaimana saya bisa berjalan dalam kegelapan tanpa cahaya, bagaimana saya bisa berjalan pada teriknya matahari tanpa sebuah naungan dan bagaimana saya bisa berjalan di kedinginan yang sangat tapa sebuah penghangat?. Semua itu akan bisa dilalui ketika kita tetap menjaga jarak kita dengan yang mempunyai cahaya, mpunya naungan dan empunya kehangatan. Kalo bisa pertahankan jarak kita jangan sampai bergeser menjauh dan juga jangan menggeser melampui titik itu sebab kita akan terbakar. Wilayah kedirian kita hanya sampai batas kehangatan dan panas yang tidak membakar diri kita.
Tuntunan alquran mengenai hal ini: ” Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (Qs. Aj Jumar: 67)
Pengagungan yang sebenarnya (haqqo qodrihi), adalah kita berlaku sesuai dengan qodar Alloh SWT. Al-qodr berarti kemulyaan (lailatul qodr = malam kemulyaan). Pengagungan atau memulyakan Alloh SWT adalah wujud syukur kepadanya dalam implikasi memelihara tegak teguhnya ketetapan-ketetapan Nya. Denagan kata lain seseorang mencapai derajat mulya (akrom) ketika dia memulyakan/mengagungkan Robbnya dengan berusaha meneegakkan aturan dalam hidupnya.
Jadi frozen (Kebekuan dalam diri akibat memudarnya keyakinan diri pada Qodlo dan qodr Alloh) tidak akan terjadi ketika kita tetap “on the track” memelihara qodar dari Alloh SWT.
Demikian sahabat ‘the frozen’ edisi hari ini, wallohu ‘alam

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: