Ketika Syetan Membisikan Kata-kata Indah

Agustus 25, 2009

*Sambungan dari tulisan ISTI’ADAH.

Hampir tak ada tempat yang tak disinggahi sang syetan dengan ‘kesaktian’ yang diberikan Sang Pencipta kepadanya. Ia (syetan) bisa bertransformasi kedalam segala bentuk yang diinginkannya. Dari mulai bentuk tangible sampai ke alam abstrak. Anehnya kita menyangka ia adalah bukan dirinya, sebab apa yang kita lihat dan kita rasa selalu wajar menurut kita. Itulah lihainya syetan bermetafora dengan target-targetnya.

Kadang ia sangat-sangat nyata dan begitu hidup serta indah dalam pandangan mata. Kadang ia tak berujud kecuali sebuah rasa, sebuah asa dan sebuah angan-angan. Sehingga larutlah kita bersamanya, bersama kehendaknya, bersama sejuta buaian dan rayuan indahnya. Yang justru itulah keinginan kita, itulah cita-cita yang senantiasa bercokol dalam hasrat dan teringiang di telinga setiap saat.

Ketika pengaruh itu semakin membahana dalam jiwa-jiwa kita, semakin ingin pula segera merealisasikan apa yang menjadi bisikan-bisikannya (syetan). Sekali, dua kali bahkan sampai ribuan kali bisikan itu terdengar setiap hari, setiap jam, setiap menit setiap detik, bahkan sepersekian detik. Begitu inten balatentara syetan memberikan provokasi, hasutan kepada pemikiran, rasa dan tindakan kita.

Hal itu wajar terjadi dan sudah menjadi sebuah ‘kesepakatan’ antara syetan dengan Tuhan Yang Maha Kuasa, bahwa syetan dikutuk tapi dengan catatan ia diberi keleluasaan menggoda anak Adam dari berbagai sisi kehidupan. Godaan masa depan yang mematahkan pemikiran atau melupakan apa yang telah diperbuat kemarin. Godaan kekayaan yang mendeskriditkan kemiskinan, lahir darinya sebuah tindak korup misalnya. …. sampai (maaf) godaan kawin lagi bagi yang merasa gagal dan tidak nyaman dengan perkawinannya sekarang. Atau ada cara-cara yang dianggap simple, maka selingkuhlah, .. dan seterusnya-dan seterusnya.

Semua yang dibisikkan syetan berupa keindahan, kesenangan, syakwa sangka, kekhawatiran yang berlebihan. Ini membuat tatanan aqidah yang dibangun mengalami guncangan. Sedikit demi sedikit terkikis, erosi, abrasi dan puncaknya tsunami aqidah tak terbantahkan lagi.

Inilah barangkali hal yang harus diwaspadai bagaimana syetan hadir dalam benak dan hati kita. Ia bersiap dengan perangkapnya. Namun jangan biarkan itu terjadi, minimalisir celah-celah datangnya syetan. Ingatkan akan kafasitas kita sebagai makhluq yang paling mulya, dan senantiasa memohon perlindungan Alloh Yang Maha Kuasa untuk mencegah kehadiran mereka (syetan) dibenak dan di hati kita. Sebab ia halus lebih halus dari barang terhalus yang ada di dunia. Maka ucapkanlah, ROBBI A’UDZU BIKA MIN HAMAJATISY SYAYATHIN WA A’UDZU BIKA AN YAHDLURUN.

Wallohu’alam.

Iklan

Leadership Morality

Agustus 24, 2009

Oleh Peter Lim MBA
“We have two kinds of morality side by side : one which we preach but do not practice and another which we practice but seldom preach”. BERTRAND RUSSELL
Sering dijumpai bahwa seorang pemimpin yang hanya piawai dibidang strategi dan taktik (manajemen), kepemimpinannya tidak mampu bertahan lama. Kenyataannya, menjadi seorang pemimpin, tidaklah semudah yang dibayangkan. Disamping ketrampilan leadership yang memadai, juga harus dilengkapi dengan etika moral. Jika tidak, “bisa” saja orang – orang yang dipimpin, hanya akan nunduk di depan dan nanduk dibelakang. Untuk itu, agar proses kepemimpinan bisa berlangsung langgeng, selain dimiliki ketrampilan (strategi dan taktik), etika moral juga harus dipenuhi, misalnya :
1.- CHARITY. Sebagai makhluk sosial, yang apapun derajat / status sosialnya, beramal adalah salah satu perbuatan mulia terdasar, yang sudah seharusnya dikembangkan secara universal. “The highest exercise of charity is charity towards the uncharitable. J. S. BUCKMINSTER
2.- MORALITY. Seorang pemimpin hendaknya menghindari (* Mengharamkan) segala bentuk dari perbuatan – perbuatan tercela, misalnya : mabuk – mabukan, judi, zinah, korupsi, manipulasi, provokasi, intiminasi dan lain sebagainya. Dia harus mampu merawat, menjaga moralitasnya. Morality is the best of all devices for leading mankind by the nose. FRIEDRICH NIETZSCHE
3.- SACRIFICE. Seorang pemimpin harus mampu berkorban waktu, materi dan perasaan. Jangan egois atau mementingkan diri sendiri. Ingat, keberhasilan seorang pemimpin sangatlah ditentukan oleh kontribusi dari bawahan – bawahannya. ”Leadership is practiced not so much in words as in attitude and in actions” HAROLD S. GENEEN
4.- HONESTY AND UNIVERSAL.
Dalam berucap, bertindak dan berpikir, seorang pemimpin haruslah selalu berhati tulus, ikhlas dan universal, yang tanpa adanya niat – niat terselubung, misalnya : 4a.- Bantuan yang diberikan, dasarnya adalah murni dan tanpa adanya niat – niat terselubung. 4b.- Apapun yang diperbuat atau diputuskan, dasarnya adalah universal. Sistim “punish dan reward” yang diterapkan adalah “benar – benar” tulus, ikhlas, universal dan adil, yang tanpa diboncengi oleh sentimen pribadi, kepicikan pikiran atau kefanatikan. ”Make yourself an honest man, and then you may be sure there is one less rascal in the world”. THOMAS CARLYLE
5.- HOSPITALITY.
Seorang pemimpin haruslah selalu ramahtamah / etika sopan santun selalu diterapkan dalam kondisi atau keadaan apapun juga. Seyogianya, semakin tinggi jabatan / posisi seseorang, hendaknya juga diiringi oleh semakin ramah dan santun sikapnya. Bagaikan padi, yang semakin berisi akan semakin menunduk. “Hospitality sitting with gladness”. HENRY WADSWORTH LONGFELLOW
6.- LOW PROFILE.
Pimpinan yang “over acting”, sok / angkuh / norak, tidaklah mencerminkan keprofessionalismean. Tidak seorangpun, yang akan senang dan suka dipimpin oleh pemimpin yang bertipe demikian. Oleh karena itu, jadilah pemimpin yang selalu berpenampilan sederhana, rapi dan tidak norak. Tipe pemimpin “low profile”, pasti akan disenangi, dikagumi dan dihormati oleh bawahannya. “Keep a cool head and maintain a low profile. Never take the lead but aim to do something big” DENG XIAOPING
7.- LOVE.
Seorang pemimpin hanya akan menggunakan kekuasaan / wewenang untuk menegakkan fungsinya, misalnya : a) Jika ada yang terbukti melanggar / merusak peraturan perusahaan, langsung diberikan sanksi yang mendidik. b) Jika bawahan memberikan kontribusi yang konstruktif, diberi penghargaan. Dasar dari penerapan sanksi dan pemberian penghargaan adalah murni dan tanpa adanya sentimen pribadi atau niat – niat lain. “Wise men appreciate all men, for they see the good in each and know how hard it is to make anything good”. BALTASAR GRACIÁN
8.- EMOTION.
Memutuskan apapun jika dilandasi oleh emosional, efeknya pasti destruktif. Oleh karena itu, emosi seorang pemimpin haruslah terkontrol dengan baik. Jika lagi emosi, jangan sekali – kali mengeluarkan keputusan karena efeknya selain merugikan diri sendiri tetapi juga orang – orang lain. ”When dealing with people, remember you are not dealing with creatures of logic, but creatures of emotion”. DALE CARNEGIE
9.- PATIENCE.
Apapun yang akan terjadi / yang akan diperbuat / diputuskan, kesabaran adalah salah satu sifat terbaik yang harus dimiliki. Melalui kesabaran, hal – hal yang tidak diharapkan terjadi, akan bisa diminimalis. “Patience and perseverance have a magical effect before which difficulties disappear and obstacles vanish”. John Quincy Adams
10.- POSITIVE ATTITUDE.
Seorang pemimpin harus mampu menilai siapapun seobjektif mungkin yang didasarkan oleh apa yang dikontribusikan. Jika kontribusinya konstruktif maka harus segera diberi penghargaan dan begitu pula sebaliknya. “You really can change the world if you care enough”. MARIAN WRIGHT EDELMAN.
Selamat berjuang dan semoga sukses sebagai pemimpin yang bijaksana


ISTI’ADZAH

Agustus 10, 2009

A’udzubillahiminasy syaithoonirrojiim (Aku berlindung kepada Alloh dari godaan syetan yang terkutuk), demikian sebuah afirmasi ketika kita memulai membaca alquran. sesuai dengan tuntunan dan juga sebuah tuntutan ketika dibacakan alquran, maka berlindunglah dulu kepada Alloh SWT dari goadaan syetan yang terkutuk. FA IDZA QURI ALQURAN FAS TA’IDZ BILLAHI MINASY SYAITHOONIRROJIIM.

Kata A’udzu (Aku berlindung) …, mengandung makna yang sangat dalam. Kepada siapa berlindung, dari apa kita berlindung, dengan apa kita melindungkan diri kita dan mengapa kita harus berlindung. Baiklah, mari kita mulai dari kepada siapa kita harus berlindung.

Sesuai dengan afirmasi tadi bahwa tiada dzat yang wajib kita mohon perlindungan kepadanya selain Alloh SWT. Sebab Dialah tempat bergantung segala sesuatu, artinya kita manusia beserta seluruh makhluq di dunia ini hanya membutuhkan pertolongan dan berada dibawah kuasanya. Tak ada satupun makhluq atau pun apa namanya yang dapat berdiri di posisi “tempat bergantung” segala sesuatu. karena Dialah Khloliq dan kita adalah makhluq, yang mau tidak mau kita berada dalam kuasanya. Maka, sadarilah kita adalah makhluq dan sesuai dengan kafasitasnya makhluq hanya punya kehendak tetapi tidak bisa mewujudkan kehendak kita, Alloh yang Maha berkehendak artinya punya kehendak sekaligus dengan kuasa mewujudkan kehenak tersebut.

Berlindung kepada Alloh SWT pasti aman, hanya saja manusia belum yakin akan keamanan yang diberikan Alloh SWT. Padahal, tiada rasa aman sesungguhnya ketika kita menjauh dari Nya. Seperti dalam beberapa ayat alquran diinformasikan bahwa, apakah mereka merasa aman ketika adzab datag tiba-tiba ketika mereka tidur, berapa banyak bencana terjadi ketika manusia tengah lelap tertidur.?
Atau apakah manusia merasa aman ketika Alloh SWT datangkan air bah di kala pagi hari sedangkan manusia sedang asyik bermain. ? Anda ingin aman, berlindunglah dengan perlindungan Alloh Aza Wajala.

Inilah sebuah do’a yang diajarkan Rosululloh Saw, supaya terhindar dari kejahatan: A’UDZU BIKALIMATILLAHIT TAMMATI MIN SYARI MAA KHOLAQ (Aku berlindung dengan kalimat Alloh yang sempurna dari kejahatan yang Alloh ciptakan). Semoga.