Ketika Syetan Membisikan Kata-kata Indah

*Sambungan dari tulisan ISTI’ADAH.

Hampir tak ada tempat yang tak disinggahi sang syetan dengan ‘kesaktian’ yang diberikan Sang Pencipta kepadanya. Ia (syetan) bisa bertransformasi kedalam segala bentuk yang diinginkannya. Dari mulai bentuk tangible sampai ke alam abstrak. Anehnya kita menyangka ia adalah bukan dirinya, sebab apa yang kita lihat dan kita rasa selalu wajar menurut kita. Itulah lihainya syetan bermetafora dengan target-targetnya.

Kadang ia sangat-sangat nyata dan begitu hidup serta indah dalam pandangan mata. Kadang ia tak berujud kecuali sebuah rasa, sebuah asa dan sebuah angan-angan. Sehingga larutlah kita bersamanya, bersama kehendaknya, bersama sejuta buaian dan rayuan indahnya. Yang justru itulah keinginan kita, itulah cita-cita yang senantiasa bercokol dalam hasrat dan teringiang di telinga setiap saat.

Ketika pengaruh itu semakin membahana dalam jiwa-jiwa kita, semakin ingin pula segera merealisasikan apa yang menjadi bisikan-bisikannya (syetan). Sekali, dua kali bahkan sampai ribuan kali bisikan itu terdengar setiap hari, setiap jam, setiap menit setiap detik, bahkan sepersekian detik. Begitu inten balatentara syetan memberikan provokasi, hasutan kepada pemikiran, rasa dan tindakan kita.

Hal itu wajar terjadi dan sudah menjadi sebuah ‘kesepakatan’ antara syetan dengan Tuhan Yang Maha Kuasa, bahwa syetan dikutuk tapi dengan catatan ia diberi keleluasaan menggoda anak Adam dari berbagai sisi kehidupan. Godaan masa depan yang mematahkan pemikiran atau melupakan apa yang telah diperbuat kemarin. Godaan kekayaan yang mendeskriditkan kemiskinan, lahir darinya sebuah tindak korup misalnya. …. sampai (maaf) godaan kawin lagi bagi yang merasa gagal dan tidak nyaman dengan perkawinannya sekarang. Atau ada cara-cara yang dianggap simple, maka selingkuhlah, .. dan seterusnya-dan seterusnya.

Semua yang dibisikkan syetan berupa keindahan, kesenangan, syakwa sangka, kekhawatiran yang berlebihan. Ini membuat tatanan aqidah yang dibangun mengalami guncangan. Sedikit demi sedikit terkikis, erosi, abrasi dan puncaknya tsunami aqidah tak terbantahkan lagi.

Inilah barangkali hal yang harus diwaspadai bagaimana syetan hadir dalam benak dan hati kita. Ia bersiap dengan perangkapnya. Namun jangan biarkan itu terjadi, minimalisir celah-celah datangnya syetan. Ingatkan akan kafasitas kita sebagai makhluq yang paling mulya, dan senantiasa memohon perlindungan Alloh Yang Maha Kuasa untuk mencegah kehadiran mereka (syetan) dibenak dan di hati kita. Sebab ia halus lebih halus dari barang terhalus yang ada di dunia. Maka ucapkanlah, ROBBI A’UDZU BIKA MIN HAMAJATISY SYAYATHIN WA A’UDZU BIKA AN YAHDLURUN.

Wallohu’alam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: