Titik TOLAK

Januari 19, 2009

polos

Seberapa pentingkah penentuan titik tolak pemberangkatan dan arah tujuan hidup dan kehidupan ini? Pernahkah kita berpikir tentangnya dan menjadikannya suatu keniscayaan? Ataukah kita masih menganggap hal itu sesuatu yang biasa-biasa saja bahkan kita menganggap dan bersikap tidak serius alias main-main.. Padahal telah jelas dalam tuntutan al-quran Alloh SWT menciptakan manusia tidak main-main melainkan dengan satu tujuan yang jelas. Barangkali menjadi jelas bahwa setiap kehidupan mempunyai awal dan akhir, ujung dan pangkal pemberangkatan dan tujuan. Hal inilah yang mesti kita sadari sebab hidup tanpa awal pemberangkatan yang jelas dan tujuan akhir yang jelas pula adalah angan-angan, <!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:1; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault {mso-style-type:export-only; margin-bottom:10.0pt; line-height:115%;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}
maka penentuan titik pemberangkatan dan arah tujuan merupakan sesuatu yang fundamental dan substansial.



Pola Hidup

Januari 16, 2009

ada beberapa pola yang sangat mempengaruhi hidup kita, perhatikan
pola makan
pola bekerja
pola istirahat
jangan lupa pola berfikir, ini biasanya juga sangat menentukan ketika kita berfikir untuk bertindak supaya tidak ada kata penyesalan di kemudian hari jadi terplaning kitu Kang Ganara.


Jangan biarkan membeku (frozen)

Januari 16, 2009

Jangan biarkan air kehidupan berhenti mengalir…… beku, tapi biarkanlah ia mengalir menelusuri bukit-bukit terjal, ngarai nan curam, bongkahan-bongkahan batu, dataran, sawah ladang, sampai akhir muara dan berkumpul dilaut samudra raya.

Pada daerah aliran (DAS) tertentu air berputar membentuk lubuk-lubuk, tempat riuh rendah berbagai makhluq air berkumpul membentuk satu komunitas.

Terkadang dibukit nantinggi air mengalir lembam tertiup angin, dan setelahnya terbentuk sebuah pemandangan menakjubkan air terjun meluncur agung berhias pelangi.

Kebekuan mungkin terjadi ketika air dihempas udara dingin sebelum sampai di dasar jatuhannya.

Di goa-goa muncul jelmaannya stalaktit, stalagnit bak ice cream alami beraromi beku dan lezat tumbuh alami

Kebekuan itu perlahan mencair, dan air kembali melanjutkan perjalanan abadi, melintasi, menembus dan berkelok-kelok di permukaan bumi.

Subhanalloh begitu indahnya, begitu syahdunya .. jadi rindu.


Manusia dan Amanah

Juni 3, 2008

 Menyambung perihal identitas; status diri dan kedirian manusia

Status kemakhluqan manusia (insan) yang diistimewakan Alloh SWT adalah sesuatu yang sangat unik dan menarik tapi sedikit terabaikan dari perhatian kita. Padahal sangat beralasan Alloh menciptakan manusia dengan segenap keunikannya. Manusia diciptakan dengan suatu tujuan memakmurkan bumi sebagai wujud peribadahan kepada Nya.  Sebagaimana sebuah inti pada sesuatu, keberadaannya adalah wajib sebab tanpanya akan menjadi bias sesuatu itu. Ketika manusia tidak Alloh ciptakan kira-kira untuk apa dunia diciptakan? Manusia adalah inti dari penciptaan alam raya ini, manusia adalah sentral yang dengannya makhluk lain tercipta.

Bahkan Alloh SWT hanya mempercayakan ‘amanat’ pengurusan bumi ini kepada manusia, yang sebelumnya sempat ditawarkan kepada gunung, bumi dan langit semua enggan menerima amanat Nya. Maka dipikulah amanat itu oleh manusia, jadi manusia adalah punya lakon dalam drama kehidupan ini.Dengan latar belakang itulah manusia seantero jagat ini WAJIB mengetahui, menyakini dan memahami arti status kemakhluqan manusia. Sebab mengetahui, meyakini serta memahaminya adalah modal dasar  untuk meningkatkan eksistensi diri kita lebih baik dan lebih bernilai dihadapan Alloh SWT.

Inherintas manusia dengan amanah sudah tidak bisa dibantah dengan alasan apapun. Sebagaimana disinggung diatas, bahwa manusia diciptakan Alloh SWT dengan kesangupan memikul amanah.  Konsekwensi logisnya bahwa peningkatan status manusia sangatlah bergantung kepada penunaian amanah tersebut. Atawa boleh dikatakan, sejauh mana ia bisa melaksanakan amanahnya sejauh itulah status dan kapasitasnya bisa terukur. Meningkat dari status sebelumnya atau malah sebaliknya terjungkal dibawah standar.

Kalau sebelumnya telah penulis kemukakan bahwa status manusia pada awalnya adalah sama dengan ciptaan Alloh yang lain yaitu sebagai makhluq. Yang dalam statusnya tidak mempunyai pilihan dan disadari atau tidak ia bergantung pada yang Mpunya. Dari bentuk ukuran dan kumulyaannya sudah tidak bisa ditawar lagi karena begitu kadar ciptaannya. Nah, senada dengan hal itu manusia yang dipikulkan amanah kepadanya mempunyai kemestian-kemstian yang lebih dari pada seorang yang berstatus makhluq. Kemestian-kemestian itu tiada lain adalah totalitas penerimaan atas kadar penciptaan dirinya. Kemudian menggunakan kelebihan-kelebihan yang dikaruniakan Alloh kepadanya sebagaimana mestinya,  sesuai kehendak pencipta. Serta berupaya merapat kepada yang telah mengkadarkan ia seperti itu adanya, dan berusaha melebur antara ia dengan sang penciptanya. Maka sudah barang tentu konsekwensi inipun akan menaikan statusnya sebagai makhluq kepada derajat hamba (budak, abdi) Alloh SWT.

Saya ingatkan kembali bahwa tidak serta merta dengan kesempurnaan penciptaan manusia lantas ia menjadi seorang yang baik tanpa melalui proses pengetahuan dan pemahaman atas status diri. Maka amalan dari pengetahuan, pemahaman serta keyakinan itu akan berlangsung scara kontinyu hingga berkhirnya usia. Sehingga datangnya maut / kematian yang haq dan tidak bisa diragukan kejadiannya.

Manusia dan amanah, hidup dan mati, ilmu dan amal semua menandakan bahwa dalam penciptaan manusia yang melekat padanya tugas dan tanggungjawab untuk menunaikan amanah adalah perjalanan yang harus ditempuh sebagai suatu proses pencapaian memanusiakan manusia dengan status makhluq menjadi abid .. abdi alloh SWT.

Cag.

 


Wilayah Kejiwaan Manusia

Mei 29, 2008

Identitas: Status Kedirian Manusia

Subhanalloh, cibuk pisan euy jadi baru nongol lagi neeh.Salam sejahtera bagi kita semua.

Emmm…. pada tulisan saya yang lalu menyinggung tentang identitas. Identitas yang juga merupakan ciri diri dan kedirian dari manusia. Bahwa manusia mempunyai status yang dengan setatus itulah bisa dipastikan kapasitas dirinya.  Seperti apa identitas / status diri manusia itu, ini sangat bergantung kepada hubungan / relationship manusia dengan sang Maha Pencipta. Hubungan ini juga yang akan menentukan kadar & kapasitas manusia. Ketika hubungannya dengan Kholiq mencapai derajat sangat dekat maka bisa dipastikan ia adalah seorang manusia yang istimewa. Manusia yang boleh jadi kekasih Alloh / habiballoh, habiburrahman …. Dan sebaliknya ketika hubungannya dengan kholiq menjauh dan menjadi sangat jauh, ia adalah seorang manusia yang kufur (abaa wastakbaro – sombong dan takabur).

Pada awalnya status manusia, binatang, tumbuhan dan alam sekitar adalah sama, makhluq (yang diciptakan). Sebab selain Allah adalah alam , ma wsiwalloh fahuwal ‘alam. Dan setiap alam adalah sesuatu yang baru (hadis – dicipta). Maka kita manusia (insan), hayawanat, nabatat adalah alam atau makhluq, produk Al Kholiq.

Pada posisi inilah derajat manusia akan sama dengan makhluq yang lain, hanya saja manusia adalah makhluk pinilih – pilihan Alloh SWT yang dalam penciptaannya disertai dengan suatu kemampuan dasar (potensi diri) yang sangat luar biasa. Dengan potensi inilah manusia akan mampu menempatkan posisi dirinya diatas makhluq lain. Berkenaanhal ini Alloh SWT menginformasikannya lewat Qs. At Tiin.

Potensi diri manusia sering pula disebut Al Fitrah (asal sesuatu) artinya masih berupa potensi-potensi yang dalam perkembangannya bisa saja membaik atau memburuk. Jadi tidak menjamin manusia diciptakan Alloh dalam sebaik-baik kejadian lantas otomatis menjadi orang baik dan dikasihi Alloh SWT.  Finalnya bisa dilihat dan ditentukan sejauhmana manusia itu sendiri mengembangkan fitrahnya kearah kebaikan atau sebaliknya.

Ketika manusia dengan potensi yang ada pada dirinya berusaha berkembang , maka potensi ini dengan kecerdasannya berkembang. Sebab dalam fitrah manusia ada yang disebut af’idah potensi kecerdasan dan kepahaman pada manusia. Af’idah sendiri sangat erat dengan potensi lainnya yang terdapat pada fitrah manusia. Potensi itu masing-masing saling merespon satu sama lainnya sehingga ketika salah satu potensi ‘sakit” maka semua akan menjadi sakit dan tidak berfungsi. Potensi itu tiada lain adalah sam’a, abshor dan af’idah . Potensi pedengaran sebagai respon terhadap sesuatu yang harus didengarnya, potensi penglihatan sebagai respon terhadap sesuatu yang harus dilihatnya serta semua itu diolah oleh af’idah sebagai kecenerungan yang menentukan sesuatu itu harus diikuti atau tidak.

Masing-masing potensi bekerja sesuai titah dan perintah Illahi, yang kesemuanya bekerja pada wilayah jiwa dan kejiwaan manusia yang sering pula disebut sebagai pusat kesadaran sebab pada satu kondisi jiwa ini akan berfungsi dan dikuasai aqal dan pada lain kondisi akan sangat dipengaruhi dan didominasi hawa (syahwat – berupa keinginan-keinginan manusia yang bertentangan dengan keinginan illahi).

Pada proses kejadiannya sebagaimana disebutkan dalam Qs. At Tiin diatas, yang dimaksud manusia diciptakan dalam kondisi sebaik-baik kejadian (ahsanit taqwim) adalah pula manusia diberi kekhususan yaitu aql selain manusia dikaruniai syahwat seperti pada makhluq lain. Oleh sebab itulah manusia mempunyai pilihan dalam hidupnya, tidak seperti binatang tumbuhan dan seterusnya.

Nah … inilah  status kita manusia, yang berawal dari / berstatus makhluq untuk kemudian akan meningkat kepada posisi / status yang lebih tinggi dengan syarat kita manusia memfungsikan segenap potensi yang ada pada diri kita ke arah perbaikan. Atau dengan kata lain menjadikan aql sebagai penguasa wilayah jiwa dan kejiwaan kita. Supaya jiwa kita tidak dipenuhi oleh penguasa-penguasa yang cenderung rakus, tidak puas dan tamak sebagai implementasi dari kuatnya hawa yang menjadikan kelamnya wilayah jiwa dan kejiwaan kita.

berlanjut aja ah ….

cag

 


AKU MENCIUM BAU SYURGA DI BUKIT UHUD

Mei 27, 2008

Bukit Uhud mengingatkan kita kepada salah seorang syahid dari banyak syahidin yang gugur disana. Salah seorang syahid Uhud adalah HAMZAH, r.a. Ketika sebilah tombak menghujam dan membelah dadanya, hamzahpun jatuh bersimbah darah syahid di bukit Uhud.

Sebelum menemui syahidnya Hamzah berteriak ” Aku mencium bau syurga di bukit Uhud.” dan ucapannya menjadi pertanada bahwa dia benar-benar menemukan syurga disana dengan hujaman sebilah tombah.

Bagaimana menurut Anda para pembaca?


Indonesia dan tradisi gosip

Mei 17, 2008

Gosip, merupakan salahsatu tradisi tertua dalam sejarah manusia. Turun temurun dan diwariskan kesetiap setiap generasi. Entah bagaimana jadinya manusia tanpa gosip, sendiri dan sunyi …kalie? Ah .. kesendirian adalah penjara bagi manusia normal dan ingin berkembang pada suatu masyarakat, komunitas tertentu.

Gosip, bagi sebagian orang merupakan kebutuhan. Sebagai makhluk sosial tak bisa dipungkiri bahwa manusia selalu memenuhi hasratnya dengan berinteraksi sesamanya. Berkumpul , ngobrol serta bertukar pikiran adalah juga kecenderungan yang harus tersalurkan. Dari interaksi inilah timbul suatu kebiasaan ngerumpi alias ngegosip juga lebih jauhnya menjadi tradisi gosip yang sangat susah dilerai karena keasyikanya. Maka bagi ‘kaum’ yang suka ngegosip tiada hari tanpa gosip tiada waktu berlalu tanpa gosip (semakin digosok semakin siiiip, … hehe).

Dan anehnya penggosip selalu punya ide untuk episode-episode dalam kesehariannya (kreatif banget ya). Habis topik yang satu maka akan timbul topik Hidayat …. eh … sorry topik yang lain.

Seiring perkembangan zaman dan teknologi gosip pun menjadi tren berbagai lapisan masyarakat. Satu hal yang menjadi  acara yang ‘wajib’ bagi setiap stasion TV yang ada di tanah air kita ini. Kalau gosip jaman dahulu adalah di serambi atau do ‘golodog’ (sunda), maka sekarang sudah lebih meluas lagi. Bisa dikamar, ditengah rumah, di dapur bahkan di WC sekalipun gosip bisa dilaksanakan melalui acara televisi itu.

Seorang Host, presenter harus punya ‘modal / bakat’ gosip dalam membawakan acara yang ditayangkan. Karena tanpa itu kayaknya kurang afdol tuhh.

Gosip telah menjadi konsumsi seluruh insan di Indonesia. Tak terkecuali anak-anak di bawah umur atau manula sekalipun, mereka menjadi penikmat acara gosip. Jadi …. gosip memang telah menjadi budaya dan melembaga bahkan “sudah tradiiisi”, ya …. gosip telah menjadi tradisi masyarakat Indonesia pada umumnya. 

 Ada anekdot tentang Indosesia dan gosip ini. Bahwa orang Indonesia terkenal sebagai penggosip alias tukang gosip. Suatu ketika berlayarlah orang Indonesia bersama sama orang Francis dan Jepang menuju suatu tujuan nun jauh disana. Malang pun tak bisa di halang kapal yang mereka tumpangi terdampar disatu pulau karena badai yang menyeretnya ke pulau tak bertuan itu, entah pulau apa namanya.

Singkat cerita mereka telah berlalu belasan tahun dipulau itu. Bukan tak ada usaha untuk keluar pulau itu, namun nasib mereka rupanya kurang beruntung. Hingga pada suatu hari mereka bertemu dengan seorang Jin dan menjanjikan akan mengabulkan 3 permohonan untuk 3 orang tersebut.

pertama orang jepang yang ditanya. “Wahai Nipon apa yang kau inginkan?” Si Jepang menjawab, “aku rindu kerja wahai Jin, maka kembalikan aku ke Jepang untuk bekerja.” Sim slabim, si Jepang pun diatarkan ke negaranya.

Lantas Si orang Ferancis, “Kalau aku sudah sangat rindu restauran, aku ingin sekali menikmati hidangan lezat disana”, maka dia pun dikembalikan ke Francis.

Giliran orang kita neeh…. orang Indonesia. Si Jin bertanya, “Wahai orang Andonesa …, Apa yang kamu inginkan ..?” Si Andonesa neeh … celingukan sambil garuk kepala. ” Aku … aku ingin kembalikan mereka berdua kemari ..!! ???

Inilah orang kita saking dah ketagihan ngegosip sama Si Francis dan orang Nipon, permintaannya pun ingin mereka bersama-sama di pulau itu.

Mungkin dah keahliannya kalie … syapa tahu ada hikmahnya dalam hal itu, .. he..he.

NGEGOSIP DALAM PANDANGAN ISLAM

gosip = ghibah, sebab dalam ghosip ada ghibah dan dalam ghibah tentu ada ghosip. Terlepas dari hal mana yang digosipiin, artinya baik atau buruk. Sekali ghibah ya ghibah …. dan dosa menurut sebagian ulama. Apalagi gosip yang mengandung profokasi (namimmah) dst. Lengkaplah gosip jadi sarang kejelekan. Biang gosip akan senang dan tertawa terbahak-bahak ketika kita terjebak pad aperngkapnya yang berupa ghibah ini.

Kalaulah ghosip itu berujud dan dapat digenggam kemudian dilempar ke lautan , maka lautan itu akan menjadi hitam, demikia Rosululloh dalam suatu hadisnya. Gosip memang suatu hal yang sangat dibenci Rosul juga Alloh SWT. Jangankan merendahkan orang atau membicarakan aib orang, membicarakan hal kebaikan orang pun termasuk ghibah…. waaww dahsyatnya.

Naah…gimana neeh para sohib? sedangkan kita terutama kaum hawa neeh suka banget tuh ngegosip. Entah di kantor, dirumah atawa dimana saja gosip dah jadi tradisi. Setelah tahu bahwa gosip ini sesuatu hal tercela … kurangi dulu deeh, atawa kata yang tepat STOP GOSIP. Karena dengan gosip bukan lebih nambah ilmu, yang jelah lebih banyak kejelekan tersebar. Bukan satu orang yang kena imbas dosa melainkan banyak orang, ya sekitaran orang-orang yang ngegosip itu lah..

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang diturunkan Allah”. Mereka menjawab: “(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)? (Qs. Luqman: 21)

Atawa coba deh dibuka QS. Al Hujurot: 12

cag