URAB DAUN GEDANG

Februari 21, 2011

Kemarin sambil jalan-jalan kontrol lokasi saya melihat pohon pepaya yang nyaris tidak berbuah, hanya ada tersisa daunnya yang lebat. Terbersit dipikiran saya, kayaknya enaknya kalo dibikin urab daun gedang (pepaya). singkat cerita saya minta tolong rekan saya yang bekerja dipertamanan, untuk memetiknya dan saya bawa kerumah.

SMS dari rumah, dari isteri tercinta. “Daun gedang teh meni pait pisan, sakitu tos di urab oge (pahit benget tuh daun pepaya walau udah di urab)”

Salah balas saya untuk sms yang satu ini.
“Namanya juga daun gedang ya pasti pahit atuh”

Lalu apa artinya?

Sifat dasar pada daun gedang ya pahit walau sudah diupayakan tetep aja akan nampak dan terasa pahitnya.

Seseorang dengan sifat dasar yang menyertainya, walau disembunyikan suatu saat akan muncul pula sifat dasar itu (tabi’at),
Namun berbeda dengan karakter yang tentu diupayakan, sebab sebelum mengkarakter mesti ada usaha dan pembiasaan.

Wallohu’alam


Ketika Syetan Membisikan Kata-kata Indah

Agustus 25, 2009

*Sambungan dari tulisan ISTI’ADAH.

Hampir tak ada tempat yang tak disinggahi sang syetan dengan ‘kesaktian’ yang diberikan Sang Pencipta kepadanya. Ia (syetan) bisa bertransformasi kedalam segala bentuk yang diinginkannya. Dari mulai bentuk tangible sampai ke alam abstrak. Anehnya kita menyangka ia adalah bukan dirinya, sebab apa yang kita lihat dan kita rasa selalu wajar menurut kita. Itulah lihainya syetan bermetafora dengan target-targetnya.

Kadang ia sangat-sangat nyata dan begitu hidup serta indah dalam pandangan mata. Kadang ia tak berujud kecuali sebuah rasa, sebuah asa dan sebuah angan-angan. Sehingga larutlah kita bersamanya, bersama kehendaknya, bersama sejuta buaian dan rayuan indahnya. Yang justru itulah keinginan kita, itulah cita-cita yang senantiasa bercokol dalam hasrat dan teringiang di telinga setiap saat.

Ketika pengaruh itu semakin membahana dalam jiwa-jiwa kita, semakin ingin pula segera merealisasikan apa yang menjadi bisikan-bisikannya (syetan). Sekali, dua kali bahkan sampai ribuan kali bisikan itu terdengar setiap hari, setiap jam, setiap menit setiap detik, bahkan sepersekian detik. Begitu inten balatentara syetan memberikan provokasi, hasutan kepada pemikiran, rasa dan tindakan kita.

Hal itu wajar terjadi dan sudah menjadi sebuah ‘kesepakatan’ antara syetan dengan Tuhan Yang Maha Kuasa, bahwa syetan dikutuk tapi dengan catatan ia diberi keleluasaan menggoda anak Adam dari berbagai sisi kehidupan. Godaan masa depan yang mematahkan pemikiran atau melupakan apa yang telah diperbuat kemarin. Godaan kekayaan yang mendeskriditkan kemiskinan, lahir darinya sebuah tindak korup misalnya. …. sampai (maaf) godaan kawin lagi bagi yang merasa gagal dan tidak nyaman dengan perkawinannya sekarang. Atau ada cara-cara yang dianggap simple, maka selingkuhlah, .. dan seterusnya-dan seterusnya.

Semua yang dibisikkan syetan berupa keindahan, kesenangan, syakwa sangka, kekhawatiran yang berlebihan. Ini membuat tatanan aqidah yang dibangun mengalami guncangan. Sedikit demi sedikit terkikis, erosi, abrasi dan puncaknya tsunami aqidah tak terbantahkan lagi.

Inilah barangkali hal yang harus diwaspadai bagaimana syetan hadir dalam benak dan hati kita. Ia bersiap dengan perangkapnya. Namun jangan biarkan itu terjadi, minimalisir celah-celah datangnya syetan. Ingatkan akan kafasitas kita sebagai makhluq yang paling mulya, dan senantiasa memohon perlindungan Alloh Yang Maha Kuasa untuk mencegah kehadiran mereka (syetan) dibenak dan di hati kita. Sebab ia halus lebih halus dari barang terhalus yang ada di dunia. Maka ucapkanlah, ROBBI A’UDZU BIKA MIN HAMAJATISY SYAYATHIN WA A’UDZU BIKA AN YAHDLURUN.

Wallohu’alam.


Leadership Morality

Agustus 24, 2009

Oleh Peter Lim MBA
“We have two kinds of morality side by side : one which we preach but do not practice and another which we practice but seldom preach”. BERTRAND RUSSELL
Sering dijumpai bahwa seorang pemimpin yang hanya piawai dibidang strategi dan taktik (manajemen), kepemimpinannya tidak mampu bertahan lama. Kenyataannya, menjadi seorang pemimpin, tidaklah semudah yang dibayangkan. Disamping ketrampilan leadership yang memadai, juga harus dilengkapi dengan etika moral. Jika tidak, “bisa” saja orang – orang yang dipimpin, hanya akan nunduk di depan dan nanduk dibelakang. Untuk itu, agar proses kepemimpinan bisa berlangsung langgeng, selain dimiliki ketrampilan (strategi dan taktik), etika moral juga harus dipenuhi, misalnya :
1.- CHARITY. Sebagai makhluk sosial, yang apapun derajat / status sosialnya, beramal adalah salah satu perbuatan mulia terdasar, yang sudah seharusnya dikembangkan secara universal. “The highest exercise of charity is charity towards the uncharitable. J. S. BUCKMINSTER
2.- MORALITY. Seorang pemimpin hendaknya menghindari (* Mengharamkan) segala bentuk dari perbuatan – perbuatan tercela, misalnya : mabuk – mabukan, judi, zinah, korupsi, manipulasi, provokasi, intiminasi dan lain sebagainya. Dia harus mampu merawat, menjaga moralitasnya. Morality is the best of all devices for leading mankind by the nose. FRIEDRICH NIETZSCHE
3.- SACRIFICE. Seorang pemimpin harus mampu berkorban waktu, materi dan perasaan. Jangan egois atau mementingkan diri sendiri. Ingat, keberhasilan seorang pemimpin sangatlah ditentukan oleh kontribusi dari bawahan – bawahannya. ”Leadership is practiced not so much in words as in attitude and in actions” HAROLD S. GENEEN
4.- HONESTY AND UNIVERSAL.
Dalam berucap, bertindak dan berpikir, seorang pemimpin haruslah selalu berhati tulus, ikhlas dan universal, yang tanpa adanya niat – niat terselubung, misalnya : 4a.- Bantuan yang diberikan, dasarnya adalah murni dan tanpa adanya niat – niat terselubung. 4b.- Apapun yang diperbuat atau diputuskan, dasarnya adalah universal. Sistim “punish dan reward” yang diterapkan adalah “benar – benar” tulus, ikhlas, universal dan adil, yang tanpa diboncengi oleh sentimen pribadi, kepicikan pikiran atau kefanatikan. ”Make yourself an honest man, and then you may be sure there is one less rascal in the world”. THOMAS CARLYLE
5.- HOSPITALITY.
Seorang pemimpin haruslah selalu ramahtamah / etika sopan santun selalu diterapkan dalam kondisi atau keadaan apapun juga. Seyogianya, semakin tinggi jabatan / posisi seseorang, hendaknya juga diiringi oleh semakin ramah dan santun sikapnya. Bagaikan padi, yang semakin berisi akan semakin menunduk. “Hospitality sitting with gladness”. HENRY WADSWORTH LONGFELLOW
6.- LOW PROFILE.
Pimpinan yang “over acting”, sok / angkuh / norak, tidaklah mencerminkan keprofessionalismean. Tidak seorangpun, yang akan senang dan suka dipimpin oleh pemimpin yang bertipe demikian. Oleh karena itu, jadilah pemimpin yang selalu berpenampilan sederhana, rapi dan tidak norak. Tipe pemimpin “low profile”, pasti akan disenangi, dikagumi dan dihormati oleh bawahannya. “Keep a cool head and maintain a low profile. Never take the lead but aim to do something big” DENG XIAOPING
7.- LOVE.
Seorang pemimpin hanya akan menggunakan kekuasaan / wewenang untuk menegakkan fungsinya, misalnya : a) Jika ada yang terbukti melanggar / merusak peraturan perusahaan, langsung diberikan sanksi yang mendidik. b) Jika bawahan memberikan kontribusi yang konstruktif, diberi penghargaan. Dasar dari penerapan sanksi dan pemberian penghargaan adalah murni dan tanpa adanya sentimen pribadi atau niat – niat lain. “Wise men appreciate all men, for they see the good in each and know how hard it is to make anything good”. BALTASAR GRACIÁN
8.- EMOTION.
Memutuskan apapun jika dilandasi oleh emosional, efeknya pasti destruktif. Oleh karena itu, emosi seorang pemimpin haruslah terkontrol dengan baik. Jika lagi emosi, jangan sekali – kali mengeluarkan keputusan karena efeknya selain merugikan diri sendiri tetapi juga orang – orang lain. ”When dealing with people, remember you are not dealing with creatures of logic, but creatures of emotion”. DALE CARNEGIE
9.- PATIENCE.
Apapun yang akan terjadi / yang akan diperbuat / diputuskan, kesabaran adalah salah satu sifat terbaik yang harus dimiliki. Melalui kesabaran, hal – hal yang tidak diharapkan terjadi, akan bisa diminimalis. “Patience and perseverance have a magical effect before which difficulties disappear and obstacles vanish”. John Quincy Adams
10.- POSITIVE ATTITUDE.
Seorang pemimpin harus mampu menilai siapapun seobjektif mungkin yang didasarkan oleh apa yang dikontribusikan. Jika kontribusinya konstruktif maka harus segera diberi penghargaan dan begitu pula sebaliknya. “You really can change the world if you care enough”. MARIAN WRIGHT EDELMAN.
Selamat berjuang dan semoga sukses sebagai pemimpin yang bijaksana


ISTI’ADZAH

Agustus 10, 2009

A’udzubillahiminasy syaithoonirrojiim (Aku berlindung kepada Alloh dari godaan syetan yang terkutuk), demikian sebuah afirmasi ketika kita memulai membaca alquran. sesuai dengan tuntunan dan juga sebuah tuntutan ketika dibacakan alquran, maka berlindunglah dulu kepada Alloh SWT dari goadaan syetan yang terkutuk. FA IDZA QURI ALQURAN FAS TA’IDZ BILLAHI MINASY SYAITHOONIRROJIIM.

Kata A’udzu (Aku berlindung) …, mengandung makna yang sangat dalam. Kepada siapa berlindung, dari apa kita berlindung, dengan apa kita melindungkan diri kita dan mengapa kita harus berlindung. Baiklah, mari kita mulai dari kepada siapa kita harus berlindung.

Sesuai dengan afirmasi tadi bahwa tiada dzat yang wajib kita mohon perlindungan kepadanya selain Alloh SWT. Sebab Dialah tempat bergantung segala sesuatu, artinya kita manusia beserta seluruh makhluq di dunia ini hanya membutuhkan pertolongan dan berada dibawah kuasanya. Tak ada satupun makhluq atau pun apa namanya yang dapat berdiri di posisi “tempat bergantung” segala sesuatu. karena Dialah Khloliq dan kita adalah makhluq, yang mau tidak mau kita berada dalam kuasanya. Maka, sadarilah kita adalah makhluq dan sesuai dengan kafasitasnya makhluq hanya punya kehendak tetapi tidak bisa mewujudkan kehendak kita, Alloh yang Maha berkehendak artinya punya kehendak sekaligus dengan kuasa mewujudkan kehenak tersebut.

Berlindung kepada Alloh SWT pasti aman, hanya saja manusia belum yakin akan keamanan yang diberikan Alloh SWT. Padahal, tiada rasa aman sesungguhnya ketika kita menjauh dari Nya. Seperti dalam beberapa ayat alquran diinformasikan bahwa, apakah mereka merasa aman ketika adzab datag tiba-tiba ketika mereka tidur, berapa banyak bencana terjadi ketika manusia tengah lelap tertidur.?
Atau apakah manusia merasa aman ketika Alloh SWT datangkan air bah di kala pagi hari sedangkan manusia sedang asyik bermain. ? Anda ingin aman, berlindunglah dengan perlindungan Alloh Aza Wajala.

Inilah sebuah do’a yang diajarkan Rosululloh Saw, supaya terhindar dari kejahatan: A’UDZU BIKALIMATILLAHIT TAMMATI MIN SYARI MAA KHOLAQ (Aku berlindung dengan kalimat Alloh yang sempurna dari kejahatan yang Alloh ciptakan). Semoga.


Hujan Oh Hujan

Februari 4, 2009

Hujan Oh Hujan … Turunlah turun hujan tuun … kami semua menantikanmu, turunlah turun hujan turun basahilah tanah air  (padahal dah basah)  ku. Rasa-rasanya gak akan ada orang yang melantuknkan lagu itu kembali hari ini, dimana beberapa kota besar di negeri kita sedang diguyur hujan bahkan ada yang banjir – gede lagi. Konon pemberitaan BMG memperkirakan pertengahan Februari 2009 merupakan puncak curah hujan. Hati-hati dan waspadalah kita, sedia payung sebelum hujan, jangan bawa payung ketika hujan basah tuh badan. Katanya hujan itu membawa berkah? Kok bawa banjir sih! Yey .. jangan salah sangka dulu, coba fikirin bener-bener apa emang tidak ada kemanfaatan dari banjir? Mmmm  ada siih mereka yang ngojek perahu buat nyebrangin orang-orang.  Tapi itukan sebagian kecil aja, bagaimana dengan kerugian meterial akibat banjir … ? jauh kan..jauh sekali.Iya juga yaaah. Lagian salah siapa terjadi banjir weee!!! Jadi bener dah gak ada kemanfaatan dari hujan? Apakah hujan sekarang sudah beralih fungsi sebagai pembawa bencana bukan pembawa rahmat.? Atau Anda tidak merasa apa-apa dengan turun dan tidaknya hujan? Waaah … keterlaluan kalo gutu!!! Dengan turun hujan baik dikehendaki atau tidak,baik dingini atau dibenci tetep hujan membawa manfaat bagi seluruh umat manusia yang kena hujan itu. Yang terkena banjir sekalipun mestinya menyadari bahwa hujan dan banjir dikirim Sang Maha Kuasa ytentunya dengan satu tujuan, meningatkan kembali kepada “PERAN SERTA KITA MANUSIA DI MUKA BUMI INI” Apakah kita termasuk kategori pembuat maslahat atau sebaliknya kita adalah perusak. Saya igatkan dengan firman Alloh di bawah ini: Dengan nama Aloh yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penentraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki (mu). (Qs. Al Anfal: 11) Wallohu ‘alam.


The Frozen

Januari 19, 2009

Ingat teori titik api? Dimana kita akan semakin hangat bahkan merasakan panas ketika kita dekat dan sangat dekat dengan pusat api, sebaliknya kita akan merasa dingin, kedinginan bahkan membeku ketika kita menjauh dari pusat api. Bumi yang kita huni, bergeser sedikit saja menjauh dari matahari maka bumi itupun akan hancur karena beku, begitupun bergeser sedikit saja mendekat kepada matahari, maka bumi akan hancur karena terbakar. Subhanalloh demikianlah Alloh menciptakan segala sesuatu di dunia ini dengan ukuran. Bumi berputar pada porosnya, matahari serta planet-planet yang ada di jagat raya ini berjalan dengan ukuran dan ketentuannya.
Hangus terbakar atau membeku, dua hal – keadaan akibat sebuah pergeseran. Sebagaimana disinggung di atas bahwa sangat-sangat diperlukan konsisten pada satu ukuran dan ketetapan, supaya terpeliharanya keharmonisan hidup dan kehidupan ini. Konsisten pada satu ukuran artinya ketika kita menyadari kadar panas yang cukup untuk diri kita pada satu posisi, maka janganlah kita mencoba untuk bergeser menjauh dari posisi tersebut. Atau ketika kita merasakan kehangatan sumber api itu berkurang dan mulai terasa dingin, maka kita segera sadar bahwa kita telah bergeser dari paosisi dimana kita tegak berdiri, menjauh dari sumber kehangatan.
Ketentuan/ketetapan itu adalah kadar yang akan terima ketika kita telah menentukan jarak antaera kita dengan sumber kehangatan tersebut. Panas bergelora, hangat dan adem, dingin menggigil bahkan membeku. Barangkali itu ketentuannya menurut uraian di atas.
The frozen yang saya jadikan judul oret-oretan ini adalah satu penelaahan saya ketika saya kembali mereorientasi perjalanhidup saya yang hampir menjelang setengah abad. Sungguh pelajaran yang berarti bagi saya, dan saya ingin berbagi dengan semua. Bahwa ketika tiang pancang pemberangkatan telah tertancap dan di depan membantang garis menuju tujuan hidup dan kehidupan yang telah ditetapkan. Maka jarak diri dan sumber energi (titik api kehangatan, iman) adalah sangat sangat menentukan. Bagaimana saya bisa berjalan dalam kegelapan tanpa cahaya, bagaimana saya bisa berjalan pada teriknya matahari tanpa sebuah naungan dan bagaimana saya bisa berjalan di kedinginan yang sangat tapa sebuah penghangat?. Semua itu akan bisa dilalui ketika kita tetap menjaga jarak kita dengan yang mempunyai cahaya, mpunya naungan dan empunya kehangatan. Kalo bisa pertahankan jarak kita jangan sampai bergeser menjauh dan juga jangan menggeser melampui titik itu sebab kita akan terbakar. Wilayah kedirian kita hanya sampai batas kehangatan dan panas yang tidak membakar diri kita.
Tuntunan alquran mengenai hal ini: ” Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (Qs. Aj Jumar: 67)
Pengagungan yang sebenarnya (haqqo qodrihi), adalah kita berlaku sesuai dengan qodar Alloh SWT. Al-qodr berarti kemulyaan (lailatul qodr = malam kemulyaan). Pengagungan atau memulyakan Alloh SWT adalah wujud syukur kepadanya dalam implikasi memelihara tegak teguhnya ketetapan-ketetapan Nya. Denagan kata lain seseorang mencapai derajat mulya (akrom) ketika dia memulyakan/mengagungkan Robbnya dengan berusaha meneegakkan aturan dalam hidupnya.
Jadi frozen (Kebekuan dalam diri akibat memudarnya keyakinan diri pada Qodlo dan qodr Alloh) tidak akan terjadi ketika kita tetap “on the track” memelihara qodar dari Alloh SWT.
Demikian sahabat ‘the frozen’ edisi hari ini, wallohu ‘alam


Jpriatna’s Weblog › Perkakas — WordPress

Januari 19, 2009

Ada pelajaran tentang hidup (Ibroh), dengan cara membaca diri, situasi dan kondisi lingkungan(iqro) sebagai pendidikan yang langsung maupun tidak diajarkan Sang Maha Mendidik – Murobbi dalam (Tarbiyah) Nya.